January 30, 2026, oleh

Malang, WISATA – Rentetan kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali menjadi perhatian publik. Sejumlah kejadian yang bahkan terjadi di lokasi serupa menimbulkan keprihatinan mendalam dan menandai adanya persoalan kesehatan mental yang tidak bisa dipandang sebagai kasus individual semata. Fenomena ini mencerminkan tantangan psikologis yang lebih luas, khususnya yang dihadapi mahasiswa rantau.
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, atau yang akrab disapa Naning, menjelaskan bahwa mahasiswa yang hidup jauh dari keluarga memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi. Proses berpindah dari lingkungan rumah ke tempat perantauan menuntut kemampuan adaptasi yang besar. Ketika dukungan sosial terbatas, kondisi ini dapat memicu tekanan emosional yang serius.
Menurut Naning, tekanan akademik memang sering dianggap sebagai penyebab utama, namun pengalaman di ruang konseling menunjukkan bahwa banyak persoalan justru berakar dari masalah keluarga. Tugas kuliah, skripsi, atau tuntutan akademik kerap hanya menjadi pemicu dari beban emosional yang sudah lama terpendam.
Ia menegaskan bahwa bekal penting mahasiswa tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan mental atau resiliensi. Tanpa kemampuan menghadapi tekanan dan kegagalan, mahasiswa berisiko terjebak dalam pola pikir sempit saat menghadapi masalah. Tekanan akademik, dalam batas wajar, justru merupakan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun fokus dan daya juang.
Terkait kecenderungan pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi psikologis yang terdesak serta paparan informasi sebelumnya. Dalam situasi rapuh, individu dapat terpengaruh oleh gambaran yang terbentuk dari cerita atau pemberitaan, sehingga peran lingkungan menjadi sangat penting.
BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan, dengan membantu mahasiswa mengenali potensi dan kekuatan diri. Selain itu, coping mechanism yang sehat—seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas yang disukai—dinilai efektif untuk menyalurkan emosi negatif.
Peran teman sebaya dan lingkungan terdekat juga krusial sebagai garda terdepan pencegahan. Sikap empati, menjaga rahasia, dan mendengarkan tanpa menghakimi dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar. Pendekatan preventif diharapkan mampu membantu mahasiswa mengenali masalah sejak dini dan menemukan jalan keluar sebelum terjebak dalam keputusasaan.