January 31, 2026, oleh Humas Universitas

Melani Rahma Putri berfoto di depan apotek yang dikelolanya. Foto:Humas UMM

MAKLUMAT — Melani Rahma Putri suatu pagi, baru saja menyelesaikan praktikum. Jas laboratorium masih tergantung rapi ketika ponselnya bergetar. Ada pesan dari apotek. Stok obat perlu dicek, seorang pelanggan meminta konsultasi. Bagi Melani, situasi semacam itu sudah jadi keseharian.

Mahasiswa semester tujuh Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2022 itu menjalani dua dunia sekaligus. Siang hari ia duduk di bangku kuliah, malam hingga dini hari memastikan apotek miliknya tetap beroperasi 24 jam. Sejak September 2025, usaha itu resmi berjalan.

Langkah Melani terbilang tak lazim. Di usia ketika banyak mahasiswa masih fokus menuntaskan skripsi, ia sudah mengelola bisnis layanan kesehatan. Tantangannya jelas: membagi waktu, tenaga, dan pikiran. Namun Melani memilih jalan itu dengan sadar.

“Dari awal memang ingin punya apotek,” ujar Melani dikutip dari laman UMM, Jumat (30/1/2026).

Keinginan itu bukan muncul mendadak. Melani merupakan lulusan SMK Farmasi. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan S1 Farmasi. Jalur pendidikan yang lurus membuatnya akrab dengan dunia obat sejak usia belia. Pengalaman tersebut menjadi bekal saat ia memutuskan membuka apotek sendiri.

Apotek yang dirintis Melani tak sekadar tempat jual beli obat. Konsepnya pelayanan komprehensif dan humanis. Setiap pasien didorong untuk berkonsultasi lebih dulu sebelum menerima obat. Riwayat penyakit ditanyakan, penggunaan obat dijelaskan, hingga cara penyimpanan diterangkan dengan detail.

“Supaya tidak terjadi medication error,” katanya.

Dalam struktur usaha, Melani berperan sebagai Pemilik Sarana Apotek (PSA). Untuk layanan kefarmasian, ia menggandeng dua apoteker resmi. Pembagian tugas itu dilakukan agar operasional tetap sesuai aturan dan standar profesi.

Kesibukan di apotek tak membuat Melani menjauh dari masyarakat. Bersama tim, ia rutin ikut kegiatan warga—mulai tingkat RT hingga desa. Di sana, apoteknya membuka layanan cek kesehatan gratis. Gula darah, asam urat, kolesterol, hingga tekanan darah bisa diperiksa tanpa biaya.

“Itu bagian dari edukasi. Banyak orang baru sadar pentingnya kesehatan setelah dicek langsung,” ujarnya.

Sebagai generasi Z, Melani juga akrab dengan dunia digital. Media sosial seperti TikTok dan Instagram dimanfaatkan untuk edukasi kesehatan sekaligus promosi. Pemesanan obat dilayani secara daring lewat WhatsApp. Untuk pelanggan dalam radius dua kilometer, tersedia layanan antar gratis.

Pegawai dari Gen Z

Pengelolaan SDM pun ia sesuaikan dengan zamannya. Pegawai direkrut dari kalangan Gen Z berlatar belakang farmasi. Mereka tak hanya melayani pelanggan, tapi juga aktif membuat konten edukasi kesehatan untuk media sosial apotek.

Di tengah padatnya aktivitas, Melani tetap berstatus mahasiswa aktif. Baginya, kuliah dan usaha bukan dua hal yang saling meniadakan. Justru sebaliknya, keduanya saling menguatkan.

“Ilmu dari kampus bisa langsung dipraktikkan. Dan pengalaman di lapangan bikin saya lebih paham saat belajar,” katanya.

Melani tak mengklaim dirinya istimewa. Ia hanya memulai lebih awal. Namun dari apotek yang lampunya tak pernah padam itu, tersimpan pesan sederhana: ilmu tak harus menunggu wisuda untuk memberi manfaat.***