February 2, 2026, oleh

KLIKTIMES.COM | MALANG-Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kelompok 14 mengikuti pembelajaran pelestarian tradisi dan ritus budaya Jawa di Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini dipandu langsung oleh budayawan Malang Ki Demang, yang memiliki nama asli Isa Wahyudi, penggagas Kampung Budaya Polowijen.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diajak memahami secara mendalam praktik tradisi masyarakat Jawa, khususnya ritus selametan yang secara umum dilaksanakan dalam tiga fase utama kehidupan, yakni kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ketiga fase ini memiliki tata adat, ritual, serta simbol-simbol yang sarat makna filosofis sebagai wujud doa, harapan, dan pengharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Ki Demang menjelaskan bahwa dalam setiap selametan, masyarakat Jawa selalu menggunakan simbol-simbol makanan ritual yang tidak sekadar bersifat konsumtif, melainkan mengandung pesan moral dan spiritual. Salah satunya adalah bubur merah putih yang dikenal sebagai jenang sengkolo, jenang palang, dan jenang poncowarno.
“Bubur merah putih melambangkan keseimbangan hidup, keberanian dan kesucian. Jenang sengkolo dimaknai sebagai penolak bala, jenang palang sebagai pembatas dari hal-hal buruk, sementara jenang poncowarno melambangkan keberagaman unsur kehidupan manusia,” terang Ki Demang.
Selain jenang, selametan juga dilengkapi dengan berbagai jenis tumpeng yang masing-masing memiliki makna khusus, di antaranya 7 jenis tumpeng berdasarkan kegunaannya antara lain Tumpeng Ropoh, Tumpeng Robyong, Tumpeng Kapuranto, Tumpeng Duplak, Tumpeng Kendhit, Tumpeng Alus, Tumpeng Among-among,
Rangkaian ritual selametan tersebut juga dilengkapi dengan sajen cok bakal, kinangan jangkep, serta minuman tradisional berupa wedang kopi, teh, dan air gula, yang masing-masing merepresentasikan unsur alam, kesederhanaan, dan rasa syukur atas rezeki kehidupan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Tematik UMM tidak hanya belajar tentang bentuk-bentuk ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai kearifan lokal, etika sosial, serta filosofi hidup masyarakat Jawa. Pembelajaran langsung di ruang budaya hidup seperti Kampung Budaya Polowijen diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran generasi muda akan pentingnya pelestarian tradisi sebagai identitas dan penopang harmoni sosial.
Pada malam harinya, mahasiswa KKN Tematik UMM kelompok 14 melanjutkan pembelajaran budaya melalui kegiatan sinau tembang macapat Jawa yang dipandu oleh Ki Surjono dan Ki Suto, pegiat budaya Kampung Budaya Polowijen.
Ki Surjono menjelaskan bahwa isi tembang macapat menggambarkan fase-fase kehidupan manusia, sejak kelahiran, masa remaja, kedewasaan, hingga kematian. Ia juga menuturkan bahwa pada masa lalu, selametan masyarakat Jawa umumnya diiringi dengan mocopatan, namun kini tradisi tersebut semakin jarang dilaksanakan.
“Macapat itu bukan sekadar tembang, tapi tuntunan hidup. Dulu selametan selalu diiringi mocopatan, sekarang jarang. Karena itu penting untuk terus diajarkan agar tetap lestari dan bisa digunakan dalam berbagai acara adat maupun kegiatan sosial,” ungkap Ki Surjono.
Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari bentuk ritual dan kesenian tradisional, tetapi juga memahami nilai filosofis, etika hidup, serta kearifan lokal masyarakat Jawa. Kampung Budaya Polowijen menjadi ruang belajar budaya yang hidup, sekaligus jembatan pewarisan tradisi kepada generasi muda agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.