February 3, 2026, oleh

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sampah plastik bukan lagi sekadar masalah estetika, melainkan ancaman serius bagi kelestarian lingkungan. Bergerak dari keprihatinan tersebut, 16 mahasiswa Program Studi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2025 melakukan aksi nyata di hilir masalah. Yakni Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 3R Dadaprejo Mandiri Kota Batu, pekan lalu.
Melalui program bertajuk “Pemanfaatan Ecobrick sebagai Solusi Pengurangan Sampah Plastik”, para mahasiswa ini mencoba menjawab tantangan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) melalui langkah sederhana namun berdampak besar.
Di lokasi, para mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi terjun langsung berkolaborasi dengan petugas kebersihan setempat. Mereka memilah sampah plastik rumah tangga yang kering, lalu memadatkannya ke dalam botol plastik bekas hingga sekeras bata. Inovasi yang dikenal sebagai ecobrick ini menjadi solusi agar plastik tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau tercecer ke ekosistem.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan. Pembina kegiatan Rindya Fery Indrawan, M.P., menekankan pentingnya mahasiswa untuk tidak hanya berkutat pada teori di dalam kelas. “Kami ingin mahasiswa belajar mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dari sumbernya. Kehadiran mereka di sini juga membantu meringankan beban rutin petugas TPST,” ujar Rindya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah kunci jangka panjang untuk menciptakan lingkungan permukiman di Kota Batu yang lebih sehat dan lestari. Meskipun berfokus pada ekosistem darat, aksi ini sangat relevan dengan disiplin ilmu akuakultur.
Sampah plastik yang tidak terkelola di daratan pada akhirnya akan hanyut dan mencemari perairan, merusak kualitas air yang menjadi media utama budidaya perikanan. Dengan menjaga daratan tetap bersih, para mahasiswa ini secara tidak langsung sedang memproteksi masa depan ekosistem perairan Indonesia. (imm/lim)