February 4, 2026, oleh Humas Universitas

Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (Foto:Istimewa)

Perjalanan karier lulusan tenaga kesehatan tidak selalu berakhir di ruang klinis atau fasilitas pelayanan medis. Bagi sebagian alumni, ilmu dan nilai yang diperoleh selama masa perkuliahan justru membuka ruang pengabdian yang lebih luas. Hal itu tercermin dari perjalanan Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang menuntaskan studi profesi pada 2024 dan langsung mengawali pengabdian sebagai Perwira TNI.

Dalam menjalankan tugas sebagai perwira, Rizki merasakan bahwa soft skill seperti komunikasi dan kepemimpinan memiliki peran yang sama pentingnya dengan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan public speaking yang diasah sejak masa kuliah melalui presentasi akademik dan forum organisasi menjadi salah satu keterampilan yang paling terasa manfaatnya di lapangan.

Ia juga menekankan bahwa kesiapan mental, fisik, serta niat yang kuat merupakan modal utama bagi mahasiswa yang bercita-cita berkarier di TNI. Menurutnya, kemampuan teknis dapat terus diasah, tetapi karakter dasar harus dibangun melalui proses panjang sejak masa perkuliahan.

“Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menilai UMM bukan sekadar tempat menimba ilmu akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang menyiapkannya menghadapi dunia pengabdian dengan tuntutan disiplin dan ketahanan mental tinggi.

Menurut Rizki, sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM mampu menyeimbangkan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang terjaga menjadi fondasi penting dalam proses belajarnya. Ia juga menilai komitmen UMM dalam menjaga mutu pendidikan tercermin dari akreditasi program studi serta pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja.

“Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” ujarnya.

Selain aspek akademik, keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan turut membentuk kematangan dirinya. Rizki tercatat pernah mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Pengalaman tersebut, menurutnya, berperan besar dalam melatih kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan mengelola dinamika tim yang beragam.

Ia menuturkan, aktivitas organisasi mengajarkannya berkomunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari sesama mahasiswa hingga pimpinan fakultas. Proses berdiskusi, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, hingga menjaga etika komunikasi menjadi bekal berharga yang kini relevan dengan tugasnya sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer.

“Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis dan penuh tanggung jawab seperti di TNI,” jelasnya.

Terakhir, ia berpesan khususnya kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu aktif di luar kelas dan berproses secara sungguh-sungguh. Ia menilai kombinasi antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi nilai tambah yang membentuk kesiapan lulusan menghadapi tantangan nyata di dunia kerja dan pengabdian.

“UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” tutupnya.(ali/faq)

 

Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman