February 13, 2026, oleh

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong diskursus akademik yang relevan dengan dinamika global melalui Roundtable Discussion bertajuk Menimbang Posisi Indonesia dalam Board of Peace. Kegiatan kolaborasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) dan Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM ini digelar di Laboratorium HI Basement GKB IV UMM, Senin (9/2/2026) siang.
Diskusi menghadirkan dua narasumber, yakni Dion Maulana Prasetyo PhD, pakar politik luar negeri Indonesia sekaligus dosen HI UMM, serta Prof Gonda Yumitro PhD, pakar dunia Islam yang juga Kepala PSIB UMM. Acara dimoderatori Inda Annisya Rahmat, mahasiswa HI UMM, dan diikuti sekitar 70 peserta.
Fokus utama diskusi adalah respons Indonesia terhadap inisiatif damai Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Januari 2026.
Prof Gonda menegaskan bahwa Indonesia memiliki daya tawar unik sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun, langkah diplomasi harus ditempuh secara hati-hati agar tidak memecah solidaritas Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Indonesia harus memosisikan diri sebagai jembatan, bukan sekadar pengikut. Dalam tataran BoP, kita tidak bisa menolak mentah-mentah, namun juga tidak bisa menerima begitu saja. Solusinya adalah keikutsertaan bersyarat,” ujarnya.
Dia menambahkan, Indonesia harus memastikan BoP bersifat komplementer, bukan menggantikan mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa. Transparansi roadmap rekonstruksi Gaza serta jaminan eksplisit atas kedaulatan Palestina menjadi syarat utama dukungan Indonesia.
Pandangan tersebut diperkuat Dion Maulana Prasetyo. Menurutnya, prinsip politik luar negeri “Bebas Aktif” bukan berarti tanpa sikap, melainkan aktif memperjuangkan keadilan.
“Kehadiran Indonesia di BoP harus dimanfaatkan untuk menyuarakan kepentingan rakyat Palestina. Jika syarat-syarat prinsipil tidak dipenuhi, Indonesia harus berani menarik diri demi menjaga integritas moral,” tegasnya.
Edukasi Mahasiswa dan Aktivis Kampus
Sementara itu, Sekretaris PSIB UMM Diki Wahyudi MP menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa dan aktivis kampus mengenai dinamika politik luar negeri Indonesia, khususnya terkait isu Palestina.
PSIB dan HI UMM mengundang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah serta berbagai lembaga intra kampus agar diskusi ini tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga menjadi pemantik kesadaran kritis generasi muda terhadap peran Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.
Kegiatan ini menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang aktif menghadirkan ruang dialog strategis atas isu-isu global yang berdampak luas, khususnya bagi dunia Islam dan kemanusiaan.
(Fal/AS)