February 14, 2026, oleh Humas Universitas

Moh. Wahyu Kurniawan. Foto: dok.UMM

MAKLUMAT – Arus informasi yang kian deras menuntut warga negara tak sekadar paham pasal-pasal hukum. Lebih dari itu, dibutuhkan kesadaran berkonstitusi yang tumbuh dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Inilah yang menjadi perhatian serius Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Sebagai kampus inovatif dan mandiri, UMM mempertegas pentingnya literasi konstitusi sebagai fondasi pendidikan kewarganegaraan. Melalui riset dosen Pendidikan Konstitusi, Dr. Moh. Wahyu Kurniawan, UMM mendorong model pembelajaran yang tak berhenti pada hafalan, tetapi membentuk cara berpikir kritis dan demokratis.

Menurut Wahyu, konstitusi seharusnya dipahami sebagai pedoman hidup bersama. Karena itu, pendidikan konstitusi mesti diarahkan pada pembentukan kesadaran bertindak sebagai warga negara.

Komitmen Kampus Inovatif

“Konstitusi bukan sekadar teks hukum. Ia harus hadir dalam perilaku. Warga negara perlu memahami hak dan kewajibannya secara utuh,” ujarnya.

Dari hasil kajiannya, Wahyu menemukan tingkat literasi konstitusi masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Padahal, konstitusi merupakan rujukan utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Berangkat dari temuan itu, ia mengembangkan Model Literasi Konstitusi yang disesuaikan dengan karakter sosial dan budaya Indonesia.

Model tersebut dirancang melalui pendekatan riset dan pengembangan dengan metode campuran. Hasilnya, lahir kerangka pembelajaran yang bisa diterapkan di sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Tujuannya adalah membentuk peserta didik yang reflektif, kritis, sekaligus solutif.

Dorong Generasi Aktif

“Literasi konstitusi harus menumbuhkan keberanian berpikir. Bukan patuh tanpa pemahaman,” tegasnya.
UMM menilai pendidikan konstitusi memiliki posisi strategis dalam membangun demokrasi yang sehat. Mahasiswa dan pelajar tidak hanya diajak memahami isi konstitusi, tetapi juga dilatih menilai kebijakan publik secara rasional serta menyampaikan kritik secara konstruktif.

Tak berhenti di ruang akademik, hasil riset tersebut juga disusun dalam bentuk policy brief sebagai rekomendasi kebijakan pendidikan. Langkah ini menunjukkan komitmen UMM agar riset dosen tidak sekadar menjadi arsip perpustakaan, melainkan berdampak langsung bagi masyarakat.

Bagi UMM, literasi konstitusi adalah modal penting untuk melahirkan generasi yang aktif, bukan pasif. Generasi yang mampu menjalankan fungsi kontrol sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.