February 19, 2026, oleh Humas Universitas

Julio Tomas Pinto meraih gelar Doktor Sosiologi Militer di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan disertasi tentang profesionalisasi militer pascakonflik. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO — Transformasi militer dari pasukan perjuangan menjadi tentara profesional menjadi fokus utama Ujian Promosi Doktor Julio Tomas Pinto di Aula GKB 4 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (14/2/2026).

Disertasinya menelaah proses profesionalisasi militer Timor Leste sebagai elemen penting dalam konsolidasi demokrasi dan menjaga stabilitas pascakonflik. Kajian ini menyoroti perubahan struktur dan budaya institusi militer, sekaligus dinamika hubungan antara militer, negara, dan masyarakat sipil dalam transisi politik.

Julio yang merupakan mantan menteri pertahanan Timor Leste memiliki sejarah panjang dengan UMM. Ia menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM pada 1993 dan lulus pada 1998.

“Ketika saya punya waktu untuk belajar lagi, saya memilih kembali ke UMM. Selain sudah mengenal kultur akademiknya, saya tertarik dengan Sosiologi Militer dan dibimbing langsung Prof Muhadjir Effendy. Alhamdulillah beliau berkenan,” tuturnya.

Ujian promosi doktor dihadiri sivitas akademika dan sejumlah pejabat penting Timor Leste, antara lain Menteri Perencanaan dan Investasi Strategis Gastao de Sousa, mantan Presiden Parlemen Aderito Hugo da Costa, Duta Besar Timor Leste untuk Indonesia Roberto Soares, Menteri Muda Komunikasi Expedito Dias Ximenes, serta mantan Menteri Infrastruktur Pedro Lay. Kehadiran mereka menegaskan relevansi strategis disertasi tersebut bagi pembangunan negara.

Dalam pemaparannya, Julio menekankan bahwa sosiologi militer melihat militer bukan sekadar institusi pertahanan, tetapi juga entitas sosial dengan struktur, budaya, dan relasi kuasa yang terus berkembang. Ia menelusuri transformasi militer Timor Leste dari pasukan gerilya pembebasan menjadi tentara profesional dalam sistem demokratis.

“Kajian ini dilakukan secara interdisipliner dengan perspektif sosiologi politik, sejarah sosial, organisasi, hingga antropologi. Profesionalisasi militer di negara kecil pascakonflik berbeda dengan negara besar. Transformasi ini bukan penghapusan total identitas lama, tetapi redefinisi nilai, tradisi, dan habitus gerilya agar selaras tuntutan institusi modern,” jelasnya.

Dia menekankan bahwa profesionalisasi militer adalah proses sosial yang sarat negosiasi kepentingan, bukan sekadar reformasi struktural. Pada masa transisi pascareferendum 1999 dan pembentukan negara baru, terjadi perdebatan antara mempertahankan struktur lama atau membangun militer profesional baru.

Timor Leste memilih jalan tengah: mentransformasi pasukan pembebasan menjadi institusi pertahanan nasional dengan tetap menjaga spirit historisnya. Krisis politik 2006 menjadi momentum penting yang mempercepat pembentukan regulasi, profesionalisme, dan supremasi sipil dalam tubuh militer.

“Temuan utama menunjukkan profesionalisme militer berkembang melalui negosiasi antara struktur modern dan nilai perjuangan masa lalu. Krisis, konflik internal, dan tekanan internasional menjadi katalis perubahan. Militer tidak hanya berfungsi sebagai alat pertahanan, tetapi juga simbol identitas nasional yang dibentuk melalui sejarah panjang perjuangan,” ujarnya.

Promotor disertasi Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menilai penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi kajian sosiologi militer di Asia Tenggara. Profesionalisasi militer harus dipahami sebagai bagian integral dari demokratisasi.

“Identitas masa lalu dapat dikelola sebagai modal sosial untuk membangun legitimasi, kepercayaan publik, dan memperkuat posisi militer dalam sistem demokratis,” ungkapnya.

(Faqih/AS)