February 19, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa KKN UMM membangun pintu irigasi baru di Desa Jambangan, Kabupaten Malang, untuk mengatur distribusi air sawah secara adil dan mencegah krisis panen. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO — Sebagai kampus inovasi dan mandiri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Salah satunya terlihat dari langkah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 7 yang merespons ketimpangan distribusi air sawah di Desa Jambangan, Kabupaten Malang. Masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi berpotensi memicu konflik agraria antarpetani.

Ketika sebagian lahan kebanjiran dan lainnya justru mengering, mahasiswa UMM membangun pintu irigasi baru pada Selasa (10/2/2026) sebagai instrumen pengatur distribusi air agar lebih adil dan terkontrol.

Bagi warga Jambangan, pertanian adalah urat nadi ekonomi desa. Ketika distribusi air terganggu, yang terancam bukan hanya hasil panen, tetapi juga harmoni sosial. Dalam beberapa musim terakhir, ketidakseimbangan pasokan air menimbulkan keluhan dan potensi konflik horizontal.

Koordinator program KKN Rifdah Nuur Fauziyyah menegaskan bahwa persoalan irigasi tidak bisa dipandang semata-mata sebagai isu teknis. “Distribusi air yang tidak terkontrol dapat memicu ketegangan antarpetani. Solusi yang kami tawarkan bukan hanya membangun fisik pintu air, tetapi juga membangun kesepahaman bersama,” ujarnya.

Pembangunan ini berangkat dari kebutuhan riil warga. “Setelah observasi dan diskusi dengan petani, kami melihat persoalan utama ada pada pengaturan aliran air. Dari situ kami sepakat untuk fokus membangun pintu irigasi yang bisa digunakan bersama,” jelas Rifdah.

Program ini diawali dengan observasi lapangan dan diskusi intensif bersama warga serta perangkat desa. Proses pembangunan dilakukan secara kolaboratif, dengan mahasiswa sebagai pelaksana utama dibantu tenaga tukang dan dukungan pemerintah desa. Meski dihadapkan keterbatasan anggaran dan sumber daya, sinergi tersebut mempercepat realisasi proyek.

Fenomena krisis air irigasi sejatinya bukan persoalan lokal semata. Di berbagai wilayah Indonesia, distribusi air pertanian yang tidak merata kerap memicu perselisihan hingga sengketa lahan. Minimnya infrastruktur pengatur air sering memperparah keadaan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian musim.

Salah satu petani setempat menuturkan kondisi sebelum adanya pintu irigasi baru. “Kadang sawah di hulu kebanyakan air sampai meluap, sementara yang di bawah kering dan retak. Kami sama-sama butuh air, tapi alirannya tidak teratur. Kalau dibiarkan, bisa menimbulkan salah paham,” ujarnya.

Keberadaan pintu irigasi baru memberi harapan agar pembagian air lebih adil dan transparan. “Sekarang alirannya bisa diatur. Kami jadi lebih tenang karena ada kesepakatan bersama. Harapannya ke depan tidak ada lagi perdebatan soal air,” tambahnya.

Langkah mahasiswa KKN UMM di Desa Jambangan membuktikan bahwa intervensi sederhana berbasis kebutuhan lokal dapat menjadi strategi mitigasi konflik agraria yang efektif. Melalui kolaborasi, riset terapan, dan pengabdian yang berdampak, UMM terus meneguhkan perannya sebagai kampus inovasi dan mandiri yang membangun kemandirian desa serta memperkuat ketahanan sosial di tengah krisis sumber daya.

(Faqih/AS)