February 19, 2026, oleh Humas Universitas

Nyadran di Makam Mpu Topeng Malang Ki Tjondro Suwono (Mbah Reni) di pimpin Ki Demang (Foto: RRI/Mey)

RRI.CO.ID, Malang – Kampung Budaya Polowijen, Malang kembali menghadirkan kekayaan tradisi budaya melalui agenda arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni, yang digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 17.00 WIB, dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Prosesi budaya ini berlangsung penuh makna dan sarat nilai spiritual, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang Kelompok 14 yang turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan tersebut.

Arak-arakan topeng dipimpin langsung oleh Ki Demang yang berada di barisan terdepan sambil membawa dupa sebagai simbol penghormatan dan penyucian. Di belakangnya, para penari berjalan beriringan sembari memegang Topeng Malangan, melangkah pelan dari panggung utama festival menuju makam Mbah Reni. Sepanjang perjalanan, alunan musik Gendhing Kebo Giro mengiringi prosesi, menambah kesan sakral dan khidmat dalam setiap langkah arak-arakan tersebut.

Arak-arakan Topeng Malang menuju Ke Makam Empu Topeng Malang (Foto:rri/mey)

Mahasiswa KKN UMM Kelompok 14 turut berjalan bersama masyarakat dalam prosesi sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya lokal sekaligus pembelajaran langsung mengenai nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat Polowijen.

Setibanya di makam Mbah Reni, topeng-topeng yang dibawa oleh para penari kemudian diletakkan dengan tertib di area makam. Prosesi dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan, disertai pembacaan doa yang dipimpin oleh Ki Demang. Seluruh rangkaian nyadran berlangsung dengan penuh kekhusyukan, diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin yang larut dalam suasana spiritual.

Dalam pernyataannya, Ki Demang menegaskan pentingnya menghormati dan melanjutkan perjuangan leluhur. “Siapapun kita, wajib menghormati dan menghargai para leluhur yang telah mendahului. Mbah Reni adalah tokoh yang menciptakan kesenian Topeng Malang. Hari ini sebagian masyarakat bisa mencari penghidupan dari kesenian itu. Maka warisan ini bukan sekadar untuk dikenang, tetapi harus dilanjutkan melalui pelestarian budaya yang sungguh-sungguh,” ujarnya di sela prosesi.

Sebelum prosesi nyadran melalui arak-arakan Topeng Malangan dilaksanakan, sejak pagi hingga sore telah digelar berbagai rangkaian kegiatan Festival Kampung Budaya Polowijen #9. Kegiatan diawali dengan Nandur Karang Kitri berupa penanaman KRPL dan toga, dilanjutkan Workshop Busana Khas Malang, serta pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan. Memasuki sore hari, prosesi Megengan menjadi agenda sakral sebelum arak-arakan dan nyadran digelar sebagai penutup festival.

Arak-arakan dan nyadran juga diikuti oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir, antara lain Pokdarwis se-Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang.

Ari Sulistyowati, guru sejarah dari SMA Sugijopranoto Kota Pasuruan, turut hadir mengikuti prosesi ini karena ketertarikannya menelusuri rekam jejak pelestarian kesenian di Malang. Ia menyampaikan kesannya,

“Saya melihat ini bukan sekadar sakralitas dalam berkesenian, tetapi bagaimana rekam jejak seorang tokoh budaya bisa dihidupkan kembali melalui tradisi nyadran. Ini sangat menyentuh, karena sejarah tidak hanya dibaca di buku, tetapi dirawat dan dijalankan bersama masyarakat,” ungkap Ari yang juga anggota Perempuan Bersanggul Nusantara.

Arak-arakan Topeng Malangan dan nyadran ke makam Empu Topeng Malang berakhir dengan turunnya hujan gerimis setelah sebelumnya cuaca terang benderang. Bagi masyarakat setempat, gerimis yang turun selepas prosesi dipercaya sebagai pertanda berkah dari Sang Maha Kuasa. Momen ini semakin menguatkan nilai sakral dan makna filosofis tradisi nyadran serta arak-arakan topeng sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur sekaligus komitmen menjaga dan melestarikan warisan budaya Topeng Malangan agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. (Mey)