February 21, 2026, oleh Humas Universitas

Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Foto: dok.UMM

MAKLUMAT – Bulan suci Ramadan dimaknai sebagai momentum membangun ulang arah hidup dan ketulusan dalam bekerja. Itulah pesan utama dalam kajian Ramadan yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Masjid A.R. Fachruddin, Kamis (19/2/2026).

Kajian yang menjadi rangkaian kegiatan Ramadan kampus tersebut menghadirkan Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan bukan sekadar rutinitas menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ruang “rekonstruksi niat” agar setiap aktivitas memiliki makna ibadah.

“Ramadan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki niat. Niat itu dinamis, harus terus diarahkan menuju yang paling baik,” ujarnya di hadapan civitas akademika.

Jembatan Peningkatan Etos Kerja

Menurutnya, ibadah seperti puasa, zakat, dan infak bukan ritual spiritual, melainkan sarana membangun kekuatan ikhlas dalam diri. Niat yang lurus, lanjutnya, memberi dampak luas, baik bagi diri sendiri maupun pengaruh positif pada lingkungan sekitar.

Dalam kajian tersebut, Nazar, sapaan lekatnya, memperkenalkan konsep empty motive. Yakni kondisi ketika seseorang tetap memiliki tujuan, namun hatinya bersih dari pamrih pujian atau imbalan manusia. Kemurnian niat inilah yang diyakini mampu meningkatkan kualitas amal sekaligus profesionalitas.

Kajian Ramadan yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang ini juga menjadi sarana memperkuat etos kerja civitas akademika. Nazar menekankan pentingnya melepaskan ego sektoral dan individual demi kemajuan institusi.

Pertebal Spiritualitas dan Peningkatan SDM

“Kemajuan tertinggi adalah ketika kita mampu melepaskan ego. Tidak perlu ada yang tahu siapa paling berkontribusi. Yang penting institusi melahirkan yang terbaik lewat semangat gotong royong,” tegasnya.

Ia juga menyinggung kemajuan sejumlah negara Asia seperti Jepang, Korea, dan China yang dinilainya lahir dari perubahan pola pikir kolektif untuk terus memperbaiki diri. Semangat itulah yang menurutnya perlu ditumbuhkan di lingkungan kampus.

Menutup kajian, Nazar mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 5 tentang pentingnya memurnikan ketaatan kepada Allah. Ia berharap nilai keikhlasan dapat menjadi pengawas dalam setiap tindakan, sehingga pekerjaan profesional sekalipun tetap bernilai ibadah.

Melalui kajian Ramadan ini, Universitas Muhammadiyah Malang menegaskan komitmennya menjadikan bulan suci sebagai momentum memperkuat spiritualitas sekaligus integritas, demi membangun kemajuan bersama.