February 28, 2026, oleh Humas Universitas

Kajian Ramadan tentang pentingnya perpaduan perpaduan iman dan ilmu sebagai fondasi pembangunan IPM di Hall Dome UMM. Foto: dok.UMM.

MAKLUMAT – Di tengah atmosfer Ramadan yang sarat refleksi, ratusan sivitas akademika memadati Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (27/2/2026).

Pengajian Persyarikatan dan Peningkatan SDM itu tak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, tetapi forum konsolidasi nilai, yakni menguatkan spiritualitas sekaligus intelektualitas di lingkungan kampus.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa puasa tidak boleh berhenti sebagai ritual seremonial. Ramadan, menurutnya, harus menjadi energi moral yang berdampak pada gerakan sosial dan peradaban.

“Puasa itu diperintahkan agar kita bertakwa. Pertanyaannya, apakah takwa itu berdampak?” ujarnya di hadapan peserta pengajian.

Konsep Ilmu dan Keimanan

Ia mengingatkan, orang pintar tanpa takwa bisa menjadi bencana bagi dunia. Ilmu yang tidak dibimbing iman berpotensi melahirkan kesombongan, bahkan kehancuran. Kemajuan teknologi, termasuk senjata pemusnah massal, lahir dari kecerdasan yang tidak selalu disertai integritas moral.

Bagi Dadang, spiritualitas dan intelektualitas tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Salat, puasa, dan ibadah lainnya akan kehilangan makna jika tidak melahirkan kejujuran, empati, serta keberanian membela yang lemah. Ciri orang bertakwa, lanjutnya, adalah dermawan, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan.

Ia juga menyoroti paradoks kehidupan beragama saat ini. Aktivitas ritual meningkat, tetapi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan turunnya korupsi, ketidakadilan, dan krisis kemanusiaan. Problem umat, katanya, bukan minimnya ibadah, melainkan lemahnya dampak sosial dari keberagamaan.

Spiritualitas Bukan Soal Konsep

Dalam konteks itu, Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah harus hadir sebagai etos perubahan. Bukan sekadar wacana normatif, melainkan gerakan yang menyentuh struktur sosial.

Penguatan SDM pun menjadi bagian penting dalam pengajian tersebut. Dadang menekankan tradisi membaca dan belajar sebagai fondasi kebangkitan. Rendahnya literasi menjadi salah satu penyebab lemahnya daya saing bangsa. Padahal, wahyu pertama telah memerintahkan membaca sebagai jalan peradaban.

“Penguatan spiritualitas harus berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang berorientasi pada kemaslahatan. SDM Muhammadiyah harus unggul secara akademik sekaligus kokoh secara moral,” tegasnya.

Spiritualitas dan Kepedulian Sosial

Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menyebut Ramadan sebagai ruang refleksi kolektif bagi kampus. Spiritualitas, intelektualitas, dan aksi sosial, menurutnya, harus berjalan beriringan agar perguruan tinggi tidak tercerabut dari realitas masyarakat.

“Pengajian ini bukan soal forum tausiyah, tetapi ruang konsolidasi nilai. Di sini spiritualitas diasah, intelektualitas diarahkan, dan kepedulian sosial diteguhkan,” ujarnya.

Melalui momentum Ramadan, UMM berupaya meneguhkan jati diri sebagai kampus yang tak hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga berintegritas. Di tengah tantangan zaman, perpaduan iman dan ilmu menjadi fondasi agar kecerdasan tidak kehilangan arah, dan spiritualitas tidak berhenti pada simbol semata.