March 4, 2026, oleh
Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia. Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. (Istimewa)
Malang, Beritasatu.com – Pengamat hubungan internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, memprediksi eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi dan pangan di Indonesia.
Dion menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan jalur energi strategis di Selat Hormuz dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Menurutnya, gangguan distribusi minyak dunia akan memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dampaknya, harga kebutuhan pokok ikut terdongkrak dan berpotensi memicu inflasi.
“Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujar Dion di Malang, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, penutupan salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut tidak hanya berdampak pada harga minyak dunia, tetapi juga dapat memicu perubahan kebijakan luar negeri negara-negara besar.
“Kalau Selat Hormuz ditutup, ekonomi dunia pasti terguncang. Kalau ekonomi negara besar terganggu, biasanya kebijakan luar negeri mereka menjadi lebih agresif,” jelasnya.
Dion juga meminta pemerintah Indonesia mengantisipasi potensi lonjakan harga energi dan pangan akibat tekanan eksternal tersebut.