March 5, 2026, oleh Humas Universitas

AKRAB: Rektor UMM Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si bersama mahasiswa dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan di Pusdiklat UMM

​MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kepemimpinan dalam perspektif Islam sejatinya bukanlah panggung untuk memamerkan kekuasaan atau mengejar privilese jabatan. Sebaliknya, ia adalah amanah suci yang berlandaskan pada penegakan keadilan dan visi kemajuan demi keberkahan umat. Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan di Pusdiklat UMM, Rabu (4/3) kemarin.

​Di hadapan para aktivis kampus, Prof. Nazar menjelaskan bahwa dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab spiritual yang kelak akan dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Allah SWT. Merujuk pada hadis Nabi, ia mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan setiap tindakan kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban.

​”Kepemimpinan tanpa keadilan akan kehilangan legitimasi moralnya. Tanpa visi yang jelas, organisasi hanya akan berjalan tanpa arah,” tegas Prof. Nazar.

Ia menguraikan bahwa fondasi kepemimpinan dalam Al-Quran berpijak pada konsep manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), perintah berlaku adil (QS. Shad: 26), serta pentingnya musyawarah (syura) sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran: 159.

​Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai instrumen strategis. Keadilan, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik nyata—mulai dari distribusi sumber daya yang transparan hingga pengambilan keputusan yang setara tanpa diskriminasi. Di era modern yang penuh tekanan kepentingan, pemimpin dituntut untuk terus beradaptasi dengan inovasi tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Quran.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan bahwa Baitul Arqom merupakan agenda rutin strategis untuk menjaga keberlanjutan kader Muhammadiyah. Kegiatan ini dirancang agar estafet kepemimpinan intelektual di lingkungan UMM tidak terputus.

​”Kami telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan melalui tiga pendekatan: partisipatif, diferensiasi, dan defensif,” ungkap Tatag. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat jiwa kepemimpinan mahasiswa, khususnya mereka yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa).

​Melalui penggemblengan di Baitul Arqom, mahasiswa diharapkan mengalami transformasi kualitas diri, baik dari segi adab, mental, maupun sikap. Dengan mengedepankan budaya umpan balik, kerja tim yang solid, serta keteladanan (uswah hasanah), UMM optimistis dapat mencetak generasi pemimpin visioner yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adil dan produktif bagi kemajuan bangsa.(imm/lim)