March 5, 2026, oleh

Malang (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Jajaran tenaga medis dan pimpinan diajak untuk merefleksikan kembali makna pengabdian yang jauh dari sekadar logika untung-rugi.
Kegiatan ini menghadirkan Zen Amirudin sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ia menyoroti fenomena logika transaksional yang kerap menyusup dalam niat beribadah maupun bekerja, yang jika dibiarkan dapat menggerus etika profesionalisme di ruang publik seperti rumah sakit.
Dr. Zen Amirudin mengawali paparannya dengan sebuah analogi tentang seorang pemuda yang mencoba menguji kekuatan sedekah. Pemuda tersebut memberikan seluruh hartanya dengan harapan mendapatkan balasan instan dari Tuhan, namun justru berakhir dengan kegelisahan karena ekspektasinya tidak terpenuhi seketika.
“Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima,” tegas Zen di hadapan sivitas akademika dan tenaga kesehatan UMM.
Menurutnya, jika seorang tenaga medis atau pegawai bekerja hanya demi imbalan cepat atau pengakuan materiil, maka yang akan muncul adalah kekecewaan saat ekspektasi tidak tercapai. Sebaliknya, Ramadan mengajarkan ketundukan dan keikhlasan.
“Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah. Dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Zen menjelaskan bahwa dalam lingkungan pelayanan kesehatan, kepatuhan pada nilai dan etika bukan sekadar formalitas, melainkan penyangga kemanusiaan. Ia membagi tingkatan kesadaran manusia dalam memandang kuasa dan tanggung jawab sebagai kesadaran bahwa setiap amanah memiliki konsekuensi moral.
Kedua, seseorang menjalankan peran tanpa dorongan kepentingan pribadi atau privilese, melainkan sebagai kewajiban etis.
“Ajaran Islam tentang kuasa bersifat preventif. Ini membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Di rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien dan integritas profesi,” jelasnya.
Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menekankan bahwa Ramadan harus dipandang sebagai momentum pembangunan peradaban. Ia mengingatkan bahwa nilai takwa semestinya bertransformasi menjadi energi positif dalam etos kerja dan disiplin.
“Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, baik itu materi, waktu, pikiran, maupun komitmen untuk memperbaiki kualitas diri,” ujar Prof. Nazaruddin.
Ia berharap semangat Safari Ramadan ini mampu menjaga konsistensi RSU UMM sebagai pusat pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman integritas spiritual. (dan/kun)