March 7, 2026, oleh

beritajejakfakta – Buka bersama (bukber) seharusnya menjadi momen mempererat silaturahmi. Namun, tak jarang momen ini justru memicu perbandingan sosial, terutama saat obrolan menyentuh topik karier, bisnis, studi, atau bahkan pernikahan. Lalu, bagaimana cara menyikapi perasaan minder yang mungkin muncul?
Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, rasa minder tidak serta-merta muncul karena acara bukber itu sendiri. Melainkan, karena adanya pertemuan dengan teman-teman yang progres kehidupannya berbeda.
Situasi ini tanpa sadar mendorong seseorang melakukan upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain yang pencapaiannya dinilai lebih tinggi.
“Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya Jumat (6/3/2026).
Atika menambahkan, dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat saat bertemu teman lama. Faktor kemiripan membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama. Sehingga, secara tidak sadar menjadi tolok ukur keberhasilan hidup saat ini.
“Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda,” ucapnya.
Padahal, setiap individu memiliki ritme perkembangan yang unik. Meski begitu, perasaan minder dalam interaksi sosial adalah hal yang wajar. Manusia secara alami membandingkan diri untuk memahami posisi dan kondisi diri, termasuk kemampuan, kepribadian, dan sikap.
Proses perbandingan diri ini, ditegaskan Atika, tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan individu yang lebih sukses dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Di sisi lain, melihat orang dengan capaian yang berbeda juga bisa menumbuhkan rasa syukur dan kepercayaan diri, asalkan dimaknai secara proporsional.
Media sosial, lanjut Atika, juga berperan dalam memperkuat kecenderungan perbandingan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteem yang dimilikinya. Padahal, konten yang ditampilkan seringkali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan tidak mencerminkan realitas secara utuh.
Untuk menjaga kepercayaan diri saat berinteraksi dengan banyak orang, Atika menyarankan untuk tidak hanya berfokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi. Tetapi juga belajar melihat perjalanan hidup orang lain secara lebih proporsional.
Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri. Caranya, dengan menanyakan pada diri sendiri langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. Biasakan juga menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap individu tumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda.
“Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka bantuan profesional selalu tersedia,” ucapnya.