March 11, 2026, oleh Humas Universitas

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dion Maulana, mengkritisi wacana Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator bagi negara-negara yang sedang berperang. Menurutnya, dalam teori resolusi konflik, mediasi sulit dilakukan saat pertempuran masih terjadi.

Dion Maulana menyampaikan bahwa mediasi idealnya dilakukan setelah kekerasan mereda. “Mediator itu hadir setelah kekerasan berhenti. Kalau pertempuran masih berjalan, secara teori resolusi konflik tidak rasional menawarkan mediasi,” ujarnya di Malang, Selasa (3/3/2026).

Lebih lanjut, Dion juga mendorong evaluasi terhadap posisi diplomatik Indonesia di forum internasional Board of Peace (BoP) pascaserangan Iran. Ia menekankan bahwa kredibilitas forum perdamaian seharusnya tercermin dalam tindakan nyata para anggotanya.

Menurutnya, Indonesia perlu mengambil sikap yang lebih tegas terhadap pelanggaran hukum internasional, dan tidak hanya mengikuti arus politik global. “Indonesia harus mempertimbangkan untuk keluar dari Board of Peace. Bagaimana mungkin lembaga yang mengeklaim membawa perdamaian justru dipimpin negara yang menyerang pihak lain di tengah negosiasi? Itu tidak mencerminkan perdamaian,” kritiknya.

Dion menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Israel telah mencapai level ancaman eksistensial. Dalam konsep keamanan ontologis (ontological security), kedua negara sulit merasa aman selama pihak lawan dianggap sebagai ancaman utama.

“Iran itu ancaman bagi Israel, Israel juga ancaman bagi Iran. Selama kamu ada, aku tidak akan merasa aman. Jadi konflik seperti ini akan terus ada karena persoalan keamanannya sudah pada level eksistensial,” ujarnya.

Ia menyinggung kebuntuan negosiasi nuklir Iran dengan Washington yang terjadi sejak tahun lalu, yang memicu serangan terhadap fasilitas pengembangan nuklir Iran.

Dion menambahkan, Presiden Donald Trump mempertimbangkan isu pengayaan nuklir serta ancaman terhadap sekutu AS di Timur Tengah, terutama Israel dan pangkalan militer Amerika. Meskipun situasi memanas, Dion meminta publik untuk tidak terburu-buru menyimpulkan konflik tersebut akan berujung pada Perang Dunia Ketiga.

“Banyak informasi yang beredar itu harus dicek dan ricek lagi. Tidak bisa langsung disimpulkan akan menjadi Perang Dunia Ketiga karena proses menuju ke sana itu sangat kompleks,” pungkasnya.

Dion menegaskan bahwa eskalasi konflik saat ini masih berada dalam kerangka rivalitas regional, meskipun dampaknya bisa meluas ke sektor energi, pangan, dan stabilitas ekonomi global.