March 12, 2026, oleh

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kawasan Kayutangan Heritage Kota Malang, yang biasanya dipadati pemburu takjil, mendadak berubah menjadi panggung edukasi terbuka pada, Selasa (10/3) sore. Melalui inisiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam tajuk “Ngebuburead”, suasana menunggu berbuka puasa di jantung kota ini diwarnai dengan perpaduan unik antara literasi, kampanye lingkungan, dan hiburan interaktif.
Salah satu sorotan utama yang memikat mata pengunjung adalah peragaan busana batik ecoprint. Berbeda dengan batik pada umumnya, busana yang dikenakan oleh putra-putri kampus UMM ini merupakan karya inovatif dosen setempat. Teknik ecoprint menggunakan bahan alami seperti daun, bunga, dan ranting untuk menciptakan motif langsung di atas kain tanpa melibatkan zat kimia berbahaya.
Tak hanya visual, aspek intelektual juga disentuh melalui kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa). Kendaraan perpustakaan keliling milik UMM ini membawa ratusan koleksi buku yang langsung diserbu oleh anak-anak dan remaja. Di trotoar bersejarah Kayutangan, terlihat pemandangan kontras yang menyejukkan: anak-anak asyik membalik halaman buku di tengah hiruk-pikuk kota.
Maharina menambahkan bahwa konsep ini bertujuan untuk mematahkan stigma bahwa literasi adalah kegiatan yang kaku. “Literasi tidak harus selalu berada di ruang kelas atau perpustakaan yang sunyi. Kami membawanya ke ruang publik agar buku terasa lebih dekat dan hangat di tengah kebersamaan ngabuburit,” imbuhnya.
Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya sesi live cooking dari Hotel Rayz UMM. Sebagai unit bisnis sekaligus laboratorium terapan bagi mahasiswa perhotelan, tim kuliner menunjukkan keahlian mereka mengolah hidangan berbuka secara profesional di hadapan warga. Interaksi ini memberikan pengalaman sensorik yang lengkap bagi pengunjung, mulai dari penglihatan, pendengaran, hingga rasa.
Roudhodul Mufarikha, salah satu warga yang hadir, memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, konsep ngabuburit edukatif seperti ini sangat dibutuhkan untuk mengisi waktu luang anak-anak dengan hal positif. “Biasanya ngabuburit hanya jalan-jalan atau beli jajan. Tapi di sini, anak-anak bisa membaca dan mengenal cara membuat batik alami. Pengalamannya sangat berkesan,” katanya.
Melalui kegiatan “Ngebuburead”, UMM berhasil menciptakan standar baru dalam mengisi waktu Ramadan di Malang. Bahwa menunggu waktu berbuka bisa menjadi momentum untuk merawat bumi, memperkaya wawasan, dan mempererat interaksi sosial dalam satu bingkai kegiatan yang menarik.(imm/lim)