March 13, 2026, oleh

kompas.id – Perang Iran melawan agresi Amerika Serikat-Israel sudah hampir dua pekan dan tidak ada tanda-tanda selesai dalam waktu dekat. Dampak perang di Timur Tengah ini merambat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, karena sektor energi terguncang.
Pemerintah Indonesia perlu segera mengantisipasi dampak panjang perang karena bisa berlangsung lama seperti perang Rusia-Ukraina. Jika perang di Ukraina mengguncang dunia lewat pasokan gandum, perang di Iran menyentuh minyak yang dampaknya lebih mendasar.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Dion Maulana Prasetya, menilai, dampak ikutan perang ini mulai dari rantai pasok energi, melemahnya ekonomi global, hingga stabilitas politik dalam negeri.
”Belajar dari perang Rusia-Ukraina, dunia semestinya tidak menganggap enteng efek lanjutan konflik karena bisa memukul kebutuhan dasar lintas negara,” kata Dion, Selasa (10/3/2026).
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/03/11/280114c5d03425c6b3b1b5a768b7814f-1000011403.jpg)
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, situasi di Selat Hormuz berdampak besar pada harga minyak global karena membuat rantai pasok minyak dunia rentan dalam beberapa waktu ke depan.
China, India, Jepang, dan Singapura dalam posisi rentan karena pasokan minyak mereka banyak berasal dari kawasan Teluk. Jika pasokan dari Selat Hormuz terganggu, negara-negara tersebut bisa mencari sumber alternatif, misalnya dari Rusia atau AS. Namun, penyesuaian itu tidak akan terjadi seketika dan tetap akan menekan pertumbuhan ekonomi mereka.
Bagi Indonesia, dampaknya tidak sepenuhnya sama. Faisal menilai ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak Teluk tidak setinggi negara-negara Asia lain. Sebab, Indonesia masih mendapat pasokan dari negara-negara Afrika, seperti Nigeria dan Angola.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/03/05/cd3ba671076ad2c5524d1d09a00f5327-20260305_H01_ARS_Tekanan_Ekonomi_Perang_Iran_mumed.png)
Namun, itu tidak berarti Indonesia aman. Negara-negara Asia yang rentan justru merupakan mitra dagang utama Indonesia. Karena itu, jika pertumbuhan ekonomi China, Jepang, Singapura, dan negara-negara Asia lain melemah akibat gangguan energi, Indonesia akan terkena imbasnya, terutama dari sisi ekspor.
Dengan kata lain, meskipun tekanan langsung dari sisi pasokan minyak mungkin tidak sebesar di negara-negara lain, tekanan tidak langsung melalui perdagangan tetap besar.
Kesiapan pemerintah
Bagi Indonesia, Dion menilai persoalan mendesak saat ini adalah kesiapan pemerintah menghadapi dampak ekonomi. Ancaman dampak bukan hanya pada pasokan fisik energi, melainkan juga pada tekanan fiskal. ”Kalau subsidi terus diberikan untuk meredam inflasi, APBN kita bisa ambrol karena sekarang sudah defisit 3 persen,” ujarnya.
Ia mengatakan, pemerintah semestinya sudah mulai merilis paket kebijakan untuk meredam dampak perang. Yang perlu disiapkan ialah realokasi APBN dan paket kebijakan penyangga. Arah belanja negara harus dibentuk ulang agar lebih siap menghadapi tekanan harga energi dan inflasi.