March 13, 2026, oleh

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Ekonom muda yang juga pengajar di Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Mochamad Rofik, menyoroti menurunnya kepercayaan konsumen yang berdampak pada melemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Mochamad Rofik yang menekuni kajian stabilitas keuangan itu mengatakan, berdasarkan data indeks kepercayaan konsumen yang ia baca, turunnya kepercayaan konsumen sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu.
Ia menyebut indeks tersebut sempat mencapai titik terendah pada September 2025 sebelum kembali membaik hingga Desember 2025.
“Namun pada Februari 2026 kemarin turun lagi. Secara umum memang menunjukkan tren penurunan,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (13/3/2026).
Menurutnya, salah satu penyebab utama adalah ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan yang tidak terlalu optimistis.
Situasi tersebut membuat masyarakat cenderung memilih menyimpan uang dibanding meningkatkan konsumsi.
Ia menilai ekspektasi yang melemah itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik, termasuk kebijakan pemerintah yang dianggap kurang memberikan dukungan kuat terhadap penguatan ekonomi.
Rofik mencontohkan sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih yang menurutnya berpotensi menimbulkan persepsi kebijakan yang terlalu konsumtif.
Ia juga menyinggung wacana yang sempat muncul terkait kemungkinan penutupan minimarket modern apabila program koperasi merah putih berjalan.
“Kalau ada pernyataan seperti itu, itu bisa menjadi sinyal buruk bagi pelaku ekonomi,” katanya.
Selain faktor domestik, Rofik juga menilai dinamika geopolitik global turut memberi tekanan terhadap perekonomian.
Ketegangan antara Israel dan Iran, misalnya, berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia yang pada akhirnya meningkatkan biaya operasional berbagai sektor usaha.
Ketika biaya produksi meningkat, pelaku usaha biasanya memiliki dua pilihan, yakni menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang.
Namun dalam kondisi daya beli masyarakat yang melemah, kedua opsi tersebut sama-sama memiliki risiko bagi pasar.
Rofik menilai pemerintah perlu melakukan penghematan anggaran secara selektif dengan meninjau kembali program-program yang dinilai tidak memiliki dampak pengganda besar terhadap perekonomian.
Menurutnya, proyek pembangunan yang tidak mendesak sebaiknya ditunda sementara waktu. Ia juga menyebut sejumlah program berbiaya besar perlu dievaluasi apabila kondisi ekonomi tidak memungkinkan.
“Cara terbaik adalah menginventarisasi program yang tidak banyak memberikan multiplier effect, itu yang dipotong,” ujarnya.
Meski demikian, Rofik menilai fundamental ekonomi domestik Indonesia sebenarnya masih memiliki kekuatan.
Ia menyebut sekitar 80 persen aktivitas ekonomi masih ditopang oleh konsumsi domestik, sementara sektor ekspor hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap perekonomian nasional. Kecuali minyak yang dominan impor.
Karena itu, ia menilai penguatan ekonomi dalam negeri harus menjadi prioritas. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat produksi domestik.
“Kalau domestik dikelola dengan baik, ekonomi kita bisa mandiri. Fokusnya harus ke dalam negeri agar roda ekonomi tetap berjalan, tapi yang terjadi kemarin malah impor 105 ribu pikap dari India. Bayangkan kalau kendaraan sebanyak itu diproduksi dalam negeri,” kata dia.
Pelemahan daya beli dirasakan pelaku usaha di Kota Malang. Ahmad Soni seorang karyawan Toko Amanah di kawasan Embong Arab mengatakan Ramadan kali ini pengunjung terasa lebih sepi. Jumlah pengunjung yang datang ke kawasan Embong Arab turun drastis.
“Perbandingannya 100 banding 40. Kalau tahun lalu pengunjungnya 100, sekarang sekitar 40 saja,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Ia memperkirakan penurunan jumlah pembeli mencapai sekitar 60 persen dibanding Ramadan sebelumnya. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat.
“Sepertinya karena kondisi ekonomi yang lagi sulit,” katanya.
Padahal, menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya kawasan Embong Arab mulai ramai sejak pertengahan Ramadan.
Pengunjung biasanya berdatangan untuk membeli kurma, roti, hingga bumbu masakan khas jazirah Arab untuk hidangan berbuka atau persiapan Lebaran. Namun tahun ini, meski Ramadan sudah memasuki 10 hari terakhir, lonjakan pengunjung belum juga terlihat.
“Saya dulu sampai tidak sempat istirahat karena pembeli datang terus. Kalau pun istirahat ya saat salat saja. Sekarang malah banyak rehatnya,” tutur Soni.
Sinyal lain perihal turun ya daya beli adalah prediksi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang akan penurunan mobilitas kendaraan bermotor keluar-masuk wilayah Kota Malang selama masa mudik Lebaran 2026.
Penurunan diperkirakan mencapai 1,75 persen, dibandingkan periode mudik tahun 2025. Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra.
“Prediksi ini khusus untuk Kota Malang. Ada potensi penurunan 1,75 persen untuk pergerakan atau keluar-masuk kendaraan bermotor,” ujarnya.
Berdasarkan catatan Dishub Kota Malang, kendaraan masuk pada arus mudik 2025 sebanyak 276.726 unit, sedangkan kendaraan keluar: 276.938 unit.
Prediksi pada arus mudik 2026 diperkirakan jumlah kendaraan masuk sebanyak 271.883 unit. Kendaraan keluar 271.092 unit.
Widjaja menjelaskan, dinamika cuaca dan kecenderungan masyarakat melakukan penghematan menjadi faktor yang memengaruhi prediksi penurunan mobilitas tersebut. Dishub mencatat dua periode puncak arus mudik pada 2026. Gelombang pertama pasa 13–15 Maret 2026. Gelombang kedua pada 18–19 Maret 2026.
“Tahun ini di tengah masa mudik ada cuti bersama Nyepi tanggal 18 Maret dan perayaan Nyepi tanggal 19 Maret. Untuk arus balik masih kami lihat timeline-nya,” tambah Widjaja.