March 14, 2026, oleh Humas Universitas

Siswa SD Mumtas Malang saat belajar mengamati pergerakan maharari dalam menentukan arah kiblat. (FOTO: Istimewa)

timesindonesia, MALANG – SD Muhammadiyah 3 Assalaam (SD Mumtas) Arjosari, Kota Malang mengajak siswa memahami langsung terkait cara menentukan arah kiblat melalui praktik ilmu falak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian Pondok Ramadan.

Pada dasarnya, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga praktik lapangan. Sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan kontekstual. Dalam mendukung kegiatan ini, sekolah menghadirkan pakar ilmu falak dari Universitas Muhammadiyah Malang, M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag., sebagai narasumber utama.

Sebagai permulaan, Syamsu menjelaskan bahwa kiblat merupakan arah menuju Ka’bah di Makkah, yang menjadi arah bagi seluruh umat Islam di dunia ketika melaksanakan salat.

“Kiblat merupakan arah bagi seluruh umat islam di dunia ketika akan shalat,” jelasnya di hadapan para murid.

Setelah teori selesai, siswa diajak untuk mempraktikkan langsung bagaimana cara menentukan arah kiblat melalui beberapa metode.

CDN Image

Baik metode modern atau tradisional turut diperkenalkan. Salah satu metode modern yang digunakan adalah melalui pemanfaatan Google Earth. Dengan aplikasi tersebut, siswa dapat memvisualisasikan posisi geografis sekolah mereka.

Berdasarkan data teknis, SD Muhammadiyah 3 Assalaam berada pada koordinat Lintang 07° 55′ 42″ LS dan Bujur 112° 39′ 09″ BT. Dari titik tersebut, terlihat garis lurus yang mengarah langsung menuju Ka’bah di Makkah dengan azimut kiblat 294° 11′ 49″.

Akurasi arah kiblat di Masjid Assalaam juga diuji secara langsung menggunakan laser 16 line. Teknologi ini membantu memastikan bahwa arah sajadah dan posisi bangunan masjid telah benar-benar presisi menghadap Ka’bah.

CDN Image

Untuk metode tradisional, siswa mempraktekkan penggunaan kompas kiblat dan alat tradisional bernama mizwalah. Mereka belajar bahwa matahari di siang hari dapat berfungsi sebagai “kompas alami raksasa” yang membantu manusia menentukan arah.

Siswa juga diajak keluar ruangan untuk mengamati matahari secara langsung menggunakan kacamata khusus matahari (solar eclipse glasses). Pengamatan ini dilakukan untuk memahami fenomena penting dalam ilmu falak yang disebut Istiwa A’zam, yaitu momen ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga arah kiblat dapat ditentukan secara sangat akurat melalui bayangan benda yang berdiri tegak lurus.

“Penting juga untuk menyamakan jam dengan jam server BMKG agar hasil pengamatan bayangan kiblat menjadi akurat,” imbuhnya.

Kegiatan ini menjadi implementasi dari deep learning di sekolah. Suasana belajar yang eksploratif membuat siswa merasa senang dengan proses belajar (joyfull learning).

keterlibatan siswa dalam praktik langsung serta keterkaitan antara ilmu falak, teknologi, dan praktik ibadah memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning).

Terakhir, proses pengamatan yang membutuhkan ketelitian, pemahaman konsep, serta kesadaran terhadap keteraturan alam juga melatih siswa untuk belajar secara sadar dan reflektif (mindful learning). (*)