April 2, 2026, oleh

Di sebuah halaman rumah sederhana di Jalan Wijaya Kusuma Dusun Sekar Putih Desa Pendem Kota Batu, deru mesin tua dan aroma cat tipis menyeruak. Di sinilah, di bawah bendera Anvil Paron, tumpukan besi tua yang nyaris terlupakan kembali menemukan nyawanya. Itu karena sentuhan Anas Wiguna.
MALANG POSCO MEDIA– Anas Wiguna kelahiran 1999. Ia lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Anas pula yang menjadi nakhoda di balik bengkel restorasi ini. Bersama rekannya, Dimas Ferdian Sukma, Anas membuktikan bahwa hobi yang ditekuni dengan konsisten bisa menjadi kran ekonomi yang menghidupi. Bahkan sekaligus wadah pemberdayaan bagi sesama anak muda.
Perjalanan dan keberhasilan Anas tak terjadi semalam. Jauh sebelum ia memahami teori komunikasi di bangku kuliah, dia sudah lebih dulu ‘berkomunikasi’ dengan mesin-mesin vespa. Sejak duduk di bangku MTs pada medio 2014, Anas sudah hobi mengulik skuter ikonik tersebut.
Ia bahkan bisa menghabiskan waktu di bengkel orang lain, menjadi tenaga freelance, hingga menyerap ilmu dari para senior. Selama empat hingga lima tahun, ia menempa diri dalam diam.
“Baru sekitar tahun 2017 saya berani buka sendiri. Awalnya cuma ambil garapan teman-teman dekat. Setelah kepercayaan terbangun dan mulai konsisten buat konten di media sosial, klien luar mulai berdatangan,” cerita Anas mengenang masa rintisannya kepada Malang Posco Media.
Restorasi di Anvil Paron bukanlah sekadar mengecat ulang. Ini adalah kerja seni yang menuntut kesabaran ekstra. Fokus utama mereka adalah Vespa, meski mobil Fiat dan motor tua lainnya juga kerap bertamu ke bengkel ini.
Untuk satu unit Vespa, prosesnya bisa memakan waktu hingga tiga bulan. Mulai dari mengelas bodi yang keropos, pengecatan, turun mesin total, hingga perakitan. Tantangan terberat? Berburu spare part original untuk unit langka, seperti Vespa tahun 1950-an.
“Kadang yang membuat lama itu proses detailing. Mencari stop lamp atau spidometer ori itu butuh ketelatenan. Apalagi kalau kliennya fanatik dengan barang original, kita harus pastikan unit kembali ke bentuk aslinya,” jelas kelahiran Batu, 5 Agustus 1999 ini.
Harga yang dipatok pun cukup kompetitif. Untuk restorasi total Vespa dimulai dari angka Rp 3 juta, sementara untuk mobil kuno, biaya menyesuaikan kondisi dengan estimasi mulai dari Rp 8 juta. Hingga kini, sudah ratusan kendaraan yang berhasil mereka hidupkan kembali.
Lebih dari sekadar bisnis, Anvil Paron kini menjadi kawah candradimuka bagi tujuh pemuda lainnya. Para pekerja di sini mayoritas berusia belasan hingga 30 tahun. Bagi Anas, bekerja dengan rekan sebaya membuat komunikasi jauh lebih cair dan hasil kerja lebih maksimal.
Menariknya, Anas tidak takut tersaingi. Ia justru mendorong anak-anak muda yang belajar di bengkelnya untuk nantinya berani membuka usaha sendiri.
“Saya ingin ini jadi sarana mereka menyalurkan hobi secara positif. Mereka yang sudah dapat ilmunya di sini, silakan kalau mau buka sendiri. Yang penting mereka bisa berkarya sesuai passion,” kata Anas.
Kisah Anvil Paron adalah bukti nyata bahwa gelar akademik dan hobi mekanik bisa berjalan beriringan.Anas menunjukkan bahwa berdikari tidak harus dimulai dengan modal besar dan gedung mewah. Halaman rumah, ketekunan dan hobi sudah lebih dari cukup untuk memulai.
Bagi anak muda di Kota Batu dan sekitarnya, Anas Wiguna adalah pengingat bagi calon-calon mekanik muda. Yakni jangan takut kotor karena oli, jika itu adalah jalan menuju kemandirian. Karena di tangan mereka yang kreatif, besi tua yang dianggap sampah bisa kembali bersinar dan memiliki nilai jual tinggi. (eri/van)