April 4, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa dilatih mengolah data RPJMD untuk rekomendasi kebijakan berbasis AI. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Di tengah derasnya tren pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai sektor, Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi pembelajaran berbasis data.

Melalui kelas Center of Excellence (CoE) Data Governance Analyst, mahasiswa didorong memanfaatkan AI untuk menganalisis dokumen perencanaan pembangunan daerah secara kritis sekaligus menghasilkan rekomendasi kebijakan yang solutif. Pendekatan ini dianggap relevan dengan kebutuhan pemerintah yang semakin mengandalkan data dan analitik dalam pengambilan keputusan.

Menurut Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan UMM Ali Roziqin MPA, pemanfaatan AI dalam kelas ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan kebutuhan untuk meningkatkan kualitas analisis kebijakan publik.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori kebijakan, tetapi juga mampu mengolah data secara kritis dan menerjemahkannya menjadi rekomendasi kebijakan yang solutif dan aplikatif bagi pemerintah daerah,” jelasnya.

Ia menambahkan, kemampuan analisis berbasis data akan menjadi kompetensi penting bagi calon analis kebijakan di era digital.

Dalam program ini, mahasiswa diberikan proyek penyusunan Concept Note berbasis data dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di berbagai wilayah Indonesia. Fokus analisis diarahkan pada permasalahan serta isu-isu strategis yang dihadapi masing-masing daerah.

Proses ini tidak hanya membuat mahasiswa memahami dokumen perencanaan pembangunan, tetapi juga melatih mereka menghasilkan kajian yang tajam, kontekstual, dan berbasis data.

Sebelum mengerjakan proyek, mahasiswa dibekali kemampuan menggunakan berbagai tools AI seperti ChatGPT, Claude, Scopus, Consensus, Scite, dan Napkin AI. Tools ini membantu dalam pengolahan data, mempercepat pencarian referensi ilmiah, hingga memperkuat dasar analisis kebijakan.

Selain itu, AI memungkinkan mahasiswa memvisualisasikan data agar lebih mudah dipahami dan diinterpretasikan.

Pemanfaatan AI tidak hanya mempermudah proses analisis, tetapi juga mendorong mahasiswa berpikir kritis dalam membaca dinamika pembangunan daerah. Dengan dukungan data yang kuat, mahasiswa mampu menyusun rekomendasi kebijakan yang sistematis dan memiliki landasan akademik kredibel.

“Pemanfaatan AI membantu mahasiswa mengolah data secara lebih komprehensif, tetapi yang terpenting adalah bagaimana mereka tetap berpikir kritis dan merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis kebutuhan daerah,” ujar Ali Roziqin.

Melalui pendekatan ini, mahasiswa Ilmu Pemerintahan UMM diharapkan menjadi analis kebijakan yang adaptif, kritis, dan responsif terhadap dinamika pembangunan daerah. Ke depan, inovasi pembelajaran berbasis AI diharapkan memperkuat peran kampus dalam mencetak sumber daya manusia yang siap berkontribusi pada tata kelola pemerintahan yang lebih efektif, transparan, dan berbasis data.

(Faqih/AS)