April 7, 2026, oleh

DIPLOMAT: Noegroho Darmo Samudro (kanan) bersama perwakilan pemerintah Ekuador setelah pementasan budaya beberapa hari lalu.
RADAR MALANG – Di ketinggian hampir tiga ribu meter di atas permukaan laut, napas terasa lebih berat. Bukan dingin yang paling menantang, tapi tipis di Quito, Ekuador memaksa tubuh beradaptasi. Di sana lah Noegroho Darmo Samudro merawat Indonesia. Bukan dengan kata-kata, melainkan lewat bunyi gamelan yang menggema hingga Amerika Latin.
ANDIKA SATRIA PERDANA
SEKILAS, Kota Quito di Ekuador mengingatkan pada Kota Malang atau Kota Batu. Sama-sama berada di wilayah pegunungan. Namun, Quito berdiri jauh lebih tinggi, yakni sekitar 2.850 meter di atas permukaan laut. Lokasinya dikelilingi Pegunungan Andes yang megah.
Udara dingin menjadi keseharian Hoho, sapaan akrab Noegroho Darmo Samudro. Suhu rata-rata hanya sekitar 13 derajat Celsius, bahkan bisa turun hingga 6 derajat. Tapi bagi dia, dingin bukan persoalan utama. Ada tantangan lain yang lebih sunyi namun terasa di setiap tarikan napas, yaitu oksigen yang menipis.
“Kalau dingin, saya sudah terbiasa di Malang. Hanya saja di Quito oksigen tipis, kalau olahraga susah bernapas,” ujarnya pelan.
Hoho yang tercatat sebagai alumnus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu bertugas sebagai Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Quito. Ekuador menjadi “rumah kedua”-nya sejak Juni tahun lalu, setelah sebelumnya menjalani penugasan di Chile. Quito juga menjadi negara kedua, tempatnya bertugas di Amerika lain.
Bagi sebagian orang Malang, Chile bukan nama asing. Negeri itu pernah menjadi asal pemain sepak bola yang dikenal Aremania, Juan Rubio. Namun bagi Hoho, Chile adalah ruang belajar. Tempat ia pertama kali merawat diplomasi budaya Indonesia di benua yang jauh dari tanah kelahirannya.
Perjalanan itu bermula secara tak terduga. Pada 2020 lalu, Hoho sebenarnya tengah menempuh studi magister di Universitas Brawijaya (UB). Namun pandemi memaksa perkuliahan berlangsung daring (online). Bimbingan tesis pun tak berjalan mulus.
Di tengah ketidakpastian itu, sebuah peluang datang. Lowongan tenaga kerja berbahasa Spanyol di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Ia mencoba mengikuti seleksi dan berhasil lolos.
Sejak Juli 2021 hingga Juli 2024 lalu, Hoho ditempatkan di Santiago. Dari sana, ia menapaki peran sebagai penghubung budaya, mengenalkan Indonesia lewat bahasa, musik, dan gerak tari. Hari-harinya diisi dengan aktivitas yang sederhana, namun sarat makna. Yaitu mengajar Bahasa Indonesia, melatih gamelan, hingga mengiringi langkah warga lokal belajar menari. Di kantor KBRI, budaya Indonesia hidup. Bukan sekadar dipamerkan, tetapi dipraktikkan.
Tak jarang, warga lokal yang telah belajar tampil di panggung-panggung pertunjukan. Mereka memainkan gamelan, menari, bahkan mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia dengan logat khas Amerika Latin. Di sana lah Indonesia menemukan wajah barunya.
Puncaknya terjadi pada 2023. Saat itu Hoho bersama tim KBRI Chile mendapat kesempatan yang tak pernah mereka bayangkan. Gamelan dilibatkan dalam produksi film fiksi berjudul Anomalia Paradoxia.
Film yang dirilis pada Desember 2024 itu berkisah tentang dunia pasca-kiamat. Suasananya sunyi, hancur, menyisakan puing-puing logam. Dari logam itulah, tokoh utama menciptakan bunyi. Gamelan dipilih.
“Karena sutradara ingin bunyi alat musik dari metal,” terang Hoho.
Bonang, kenong, gong, dan saron pun berbicara dalam bahasa yang berbeda, yaitu bahasa bunyi yang melintasi batas negara. Seluruh proses rekaman film dilakukan di kantor KBRI Chile, melibatkan enam orang. Terdiri atas dua WNI, tiga warga Chile yang pernah belajar gamelan di Indonesia, serta sang music director, Sebastian Rawicz.
Bagi Hoho, momen itu bukan sekadar pencapaian. Ia adalah bukti bahwa budaya Indonesia bisa menemukan jalannya sendiri, bahkan melalui medium yang tak terduga.
“Tidak hanya jadi soundtrack. Gamelan juga dipakai untuk sound effect. Biasanya digabungkan dua alat untuk menciptakan efek tertentu,” katanya.
Kini, langkah Hoho berlanjut di Quito. Ia tengah fokus membangun Cultural Center Indonesia, sebuah ruang baru yang akan menjadi rumah budaya Indonesia di Ekuador.
Gedungnya telah siap. Tinggal menunggu waktu untuk berdenyut.
Mulai 13 April depan, pusat budaya itu akan membuka kelas-kelas. Kelas Bahasa Indonesia setiap Senin dan Rabu, kemudian gamelan setiap Selasa, serta tari setiap Jumat. Meskipun peserta masih terbatas, semangatnya tak suruh. Untuk kelas bahasa Indonesia ada 13 peserta Bahasa Indonesia dan masing-masing empat orang untuk kelas tari dan gamelan.
“Kendala utamanya jadwal, karena mayoritas mereka pekerja,” ujarnya.
Namun bagi Hoho, angka bukan segalanya. Setiap orang yang datang adalah jembatan. Setiap nada gamelan yang dipukul adalah pesan. Bahwa Indonesia, sejauh apa pun jaraknya, selalu bisa ditemukan, bahkan di udara tipis Quito.(*/dan)
Editor : Mahmudan