April 15, 2026, oleh
HARIAN BASIS – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai UNESCO Chair and Host Institution untuk program Sustainable Water Ecosystem pada Selasa, 14 April 2026. Penunjukan ini menjadikan UMM sebagai salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengawal isu kelestarian air global.
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menjelaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dedikasi panjang dalam riset dan pengabdian masyarakat. Visi internasionalisasi kampus menjadi pendorong utama lahirnya kemitraan strategis dengan organisasi PBB tersebut.
Sebagai pemegang mandat UNESCO, UMM menjalankan intervensi di kawasan Subak, Tabanan, Bali, untuk mengatasi degradasi lahan akibat pestisida kimia. Inovasi green farming dan smart farming diterapkan guna memulihkan kesuburan tanah dan menjaga daerah resapan air yang terancam alih fungsi menjadi vila.
“Melalui pengembangan smart farming dan energi terbarukan, kami otomatis menyelamatkan daerah resapan air. Dari sana, pada 2024, UMM mendapat penghargaan UNESCO atas upaya konservasi subak,” kata Muhamad Salis Yuniardi, Wakil Rektor IV UMM, dilansir dari situs resmi umm.ac.id.
Di wilayah Indonesia Timur, UMM mengerahkan 52 akademisi ke Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memetakan sumber air baru dan menekan angka stunting. Tim ahli saat ini sedang menyiapkan teknologi desalinasi bertenaga surya untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat setempat.
Sektor energi terbarukan juga menjadi fokus melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 1 dan 2 di kompleks kampus serta Sengkaling. Teknologi ini memanfaatkan aliran Sungai Brantas sebagai sumber listrik ramah lingkungan yang juga diimplementasikan di Sumber Maron dan Boonpring Turen.
Status UNESCO Chair ini dianggap sebagai amanah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sesuai nilai Islam Berkemajuan. Program-program yang dijalankan bertujuan memastikan ketersediaan sumber daya air bagi generasi mendatang hingga ratusan tahun ke depan.
