April 16, 2026, oleh

pwmu – Di antara sifat fi’liyyah (sifat yang berkaitan dengan perbuatan) Allah Azza wa Jalla adalah mencintai. Sifat ini telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Karena itu, kita wajib mengimani sifat ini tanpa mentakwilkan atau mengubah maknanya, sebab hal tersebut termasuk penyimpangan.
Salah satu sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Mahabbah (cinta), yaitu Allah mencintai hamba-Nya yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan siapa saja yang dicintai oleh Allah.
Banyak orang ingin dicintai Allah dan juga dicintai manusia. Namun, tahukah kita bahwa ada amalan sederhana yang dapat mengantarkan pada keduanya?
Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِيَ اللهُ وَأَحَبَّنِيَ النَّاسُ؟ فَقَالَ: «اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
“Ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang apabila aku lakukan, Allah mencintaiku dan manusia juga mencintaiku.’ Beliau menjawab, ‘Zuhudlah di dunia, maka Allah akan mencintaimu. Begitu pula, zuhudlah dari apa yang ada di tangan manusia, maka manusia akan mencintaimu’.”
(HR Ibnu Majah: 4102)
Hadis ini menunjukkan bahwa kunci dicintai Allah dan manusia adalah zuhud.
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Orang yang zuhud akan lebih yakin dengan balasan di sisi Allah daripada apa yang ada di dunia. Ia tidak takut miskin ketika bersedekah, dan tidak berputus asa saat tertimpa musibah.
Sebaliknya, ia berharap pahala dan ridha Allah sebagai tujuan utama hidupnya.
Penetapan sifat cinta Allah juga dijelaskan dalam berbagai hadis, di antaranya:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَوْمَ خَيْبَرَ :لَأُعْطِيَنَّ هَذِهِ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى يَدَيْهِ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada perang Khaibar:
“Aku akan memberikan bendera ini kepada seorang laki-laki yang Allah memberikan kemenangan melalui tangannya. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah serta Rasul-Nya mencintainya.”
(HR. Bukhari no. 2942; Muslim no. 6376)
Hadis ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Allah dan Rasul menjadi sebab mendapatkan cinta dari Allah.
Dalam hadis lain disebutkan:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup (kaya hati), dan tersembunyi (tidak mencari popularitas).”
(HR. Muslim no. 2965)
Hadis ini menegaskan bahwa hamba yang dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa, tidak bergantung pada dunia, dan tidak mencari pujian manusia.
Jika ingin dicintai Allah dan manusia, maka latihlah hati untuk tidak bergantung pada dunia. Jadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Karena sejatinya, ketenangan dan kemuliaan hidup hanya dapat diraih ketika seseorang lebih dekat kepada Allah.