April 18, 2026, oleh Humas Universitas

UMM secara resmi menjadi mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem. Foto:Humas UMM

MAKLUMAT — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditetapkan sebagai mitra UNESCO (UNESCO Chair and Host Institution) untuk program Sustainable Water Ecosystem pada 2026, menjadikannya salah satu dari tiga perguruan tinggi di Indonesia yang meraih status tersebut.

Pengakuan ini menegaskan posisi UMM sebagai kampus yang tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga riset dan pengabdian masyarakat yang berdampak global.

Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, menyebut capaian ini merupakan hasil konsistensi panjang dalam inovasi dan riset keberlanjutan. “Ini bukan proses instan, tetapi perjalanan panjang riset dan pengabdian,” ujar Salis dikutip Jumat (17/4/2026).

Dorong Solusi Krisis Air dan Subak Bali

Sebagai mitra UNESCO, UMM mengemban peran dalam pengembangan ekosistem air berkelanjutan, termasuk merespons krisis air dan alih fungsi lahan di sistem irigasi Subak, Tabanan, Bali.

Melalui pendekatan green farming dan smart farming, UMM mendorong pemulihan kualitas tanah sekaligus menjaga daerah resapan air yang terdampak alih fungsi lahan.

“Dari pengembangan smart farming, secara tidak langsung kita menyelamatkan ekosistem air,” kata Salis.

Program ini sebelumnya juga mengantarkan UMM meraih pengakuan UNESCO pada 2024 atas kontribusi konservasi Subak.

Fokus NTT dan Teknologi Air Bersih

Langkah kedua difokuskan pada wilayah Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT). UMM menerjunkan 52 akademisi untuk pemetaan sumber air, penguatan ketahanan pangan, dan penanganan stunting.

Ke depan, UMM juga menyiapkan penerapan teknologi desalinasi bertenaga surya untuk penyediaan air bersih berkelanjutan di wilayah tersebut.

Energi Terbarukan dan PLTMH

Di sektor energi, UMM mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang memanfaatkan aliran Sungai Brantas di lingkungan kampus dan Taman Rekreasi Sengkaling.

Selain itu, pengembangan PLTMH juga diperluas ke berbagai daerah seperti Sumber Maron dan Boonpring Turen untuk mendukung ekowisata berbasis energi hijau.

Komitmen Jangka Panjang

Status mitra UNESCO tidak membuat UMM berhenti berinovasi. Menurut Salis, capaian ini menjadi amanah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan jangka panjang.

“Kita berpikir untuk 50 sampai 100 tahun ke depan demi keberlanjutan air dan lingkungan,” ujarnya.

Komitmen ini sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan yang diusung Persyarikatan Muhammadiyah, yang menekankan keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis.***