April 21, 2026, oleh Humas Universitas

Suasana dialog dalam webinar “Give to Gain” yang membahas penguatan akses dan partisipasi perempuan di masyarakat. (Tangkapan layar/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Momentum International Women’s Day (Hari Perempuan Internasional) kembali dimanfaatkan sebagai ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen untuk memperluas akses dan partisipasi perempuan di berbagai sektor.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Pusat Studi Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PSP2A) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), serta Asosiasi Studi Wanita dan Gender Indonesia (ASWGI).

Sinergi ini dikemas dalam webinar nasional bertajuk “Give to Gain: Membangun Akses dan Partisipasi Bermakna bagi Perempuan” pada Kamis (12/3/2026).

Mendapat dukungan penuh dari Rektor UMM Prof Nazaruddin Malik MSi, webinar ini diikuti ratusan akademisi, mahasiswa, peneliti, dan pegiat isu gender dari seluruh Indonesia. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Rektor UMJ Prof Ma’mun Murod MSi.

Dia menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menghadirkan ruang yang inklusif.

“Kampus harus memberikan kesempatan setara bagi perempuan. Esensi kesetaraan gender adalah memperluas peran perempuan agar memiliki akses setara terhadap sumber daya, pendidikan, hingga pengambilan keputusan,” tegasnya.

Diskusi utama menyoroti pendidikan sebagai instrumen penting dalam pemberdayaan perempuan (women empowerment). Tim Dewan Pakar PSP2A UMM Dr Tutik Sulistyowati MSi menegaskan bahwa akses pendidikan merupakan langkah awal yang tidak bisa ditawar dalam membangun kapasitas perempuan.

“Pendidikan dan partisipasi bermakna adalah fondasi paling esensial dalam mewujudkan kesetaraan. Pendidikan merupakan kunci utama untuk membangun kapasitas perempuan, sehingga mereka tidak hanya sekadar hadir, tetapi benar-benar mampu berperan aktif dan memberikan dampak nyata di berbagai sektor kehidupan,” paparnya.

Isu tersebut diperdalam oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Inklusif Daerah 3T Dr Rita Pranawati SS MA. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses pendidikan hingga wilayah terpencil yang masih menghadapi banyak keterbatasan.

“Kita tidak boleh menutup mata terhadap berbagai tantangan di wilayah 3T, mulai dari keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, hingga hambatan sosial budaya yang masih membatasi kesempatan perempuan untuk belajar. Memperluas akses pendidikan bagi perempuan di wilayah terpencil dan tertinggal bukanlah sebuah pilihan, melainkan bagian mutlak dari agenda pembangunan yang inklusif,” tegasnya.

Sesi diskusi berlangsung dinamis. Salah satu peserta, Trisakti Handayani, memantik dialog mengenai pengukuran kemajuan kesetaraan gender dalam pendidikan agar selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), termasuk terkait dukungan anggaran pemerintah serta peran masyarakat sipil dalam pengawasan kebijakan.

Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, PSP2A UMM, PSGA UMJ, dan ASWGI berharap sinergi tidak berhenti pada forum diskusi akademik, tetapi dapat bertransformasi menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan dan memperkuat partisipasi perempuan demi terwujudnya masyarakat yang inklusif, setara, dan berkeadilan.

(Faqih/AS)