April 21, 2026, oleh

Di saat banyak sarjana muda masih sibuk mencari lowongan kerja, Muh Giyang Van Permana justru mantap membangun lapangan kerjanya sendiri. Alumni Program Studi Perikanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini terbukti sukses mengelola tambak udang pribadinya di Desa Demung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo. Kunci kesuksesannya bukanlah jalan pintas, melainkan buah dari tempaan ilmu praktis melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Udang di Kampus Putih.
Pria yang akrab disapa Giyang ini sudah membidik jurusan perikanan sejak awal kuliah. Ia jeli melihat besarnya potensi pesisir tanah kelahirannya di Situbondo. Langkahnya untuk terjun ke industri ini semakin tajam saat ia memutuskan bergabung dengan kelas profesional CoE Udang UMM.
Menurutnya, program inovatif tersebut memberikan ruang pembelajaran komprehensif yang jarang didapat di kelas teori konvensional. Giyang dibekali keahlian spesifik secara mendalam, mulai dari tata kelola kualitas air, manajemen budidaya, hingga praktik langsung menghadapi realitas lapangan.
Bekal teknis tersebut menjadi senjata utama, ia saat ini mengelola tambaknya sendiri. Tak gentar saat harus berhadapan dengan dinamika cuaca ekstrem dan fluktuasi kondisi air tambak yang berisiko tinggi. Insting dan kemampuan analisisnya diuji langsung saat harus menjaga kestabilan air, menentukan racikan mineral dan probiotik yang presisi, hingga menjinakkan masalah plankton blooming.
“Ilmunya benar-benar terpakai di dunia kerja. Apalagi untuk menjaga kualitas air dan menentukan treatment apa yang harus dipakai saat kondisi air berubah, itu semua menjadi lebih terarah berkat program CoE,” tegasnya.
Meski demikian, merintis bisnis tambak mandiri bukan perkara ringan. Giyang mengaku sempat dihantui rasa kurang percaya diri saat harus memegang kendali penuh atas bisnis yang menuntut ketelitian dan adaptasi ketat ini. Namun, keraguannya terpatahkan oleh kuatnya dukungan keluarga dan jejaring solidaritas alumni UMM.
“Awalnya saya sempat ragu karena merasa belum terlalu menguasai. Namun, berkat bimbingan senior-senior UMM yang sudah lebih dulu terjun menjadi teknisi tambak, ditambah pengalaman dari orang tua, saya jadi jauh lebih mudah beradaptasi dengan ritme kerjanya,” ujar Giyang.
Kini, roda operasional tambak milik Giyang di Demung Barat terus berputar lancar. Strategi pemasarannya pun terbilang cerdik. Ia menerapkan sistem lelang panen kepada pengepul demi mengamankan harga jual tertinggi secara tunai.
Pencapaian Giyang menjadi bukti autentik bahwa kurikulum praktis seperti CoE UMM tidak sekadar mencetak lulusan dengan ijazah, tetapi melahirkan wirausahawan tangguh yang siap bersaing di industri perikanan. Ia pun berharap mahasiswa lain mau memaksimalkan fasilitas dan program kampus agar memiliki daya saing yang sama.
“Pesan saya, jangan pernah takut melangkah. Coba dulu saja, nanti kita pasti akan tahu hasilnya,” pungkasnya memotivasi.(rik)
Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman