April 22, 2026, oleh
BERITAJEJAKFAKTA – Seorang mahasiswi bernama Kirana menginisiasi platform diskusi digital bertajuk “(Bukan) Surat-Surat Cinta” di kawasan Malang pada Selasa, 21 April 2026. Platform ini digunakan sebagai ruang pertukaran perspektif kritis mengenai fenomena sosial dan pertanyaan eksistensial.
Dilansir dari Kumparan, Kirana yang kini menetap di lingkungan kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan transformasi pemikiran yang lebih progresif. Ia mengundang rekan diskusinya untuk merespons berbagai tulisan melalui situs web tersebut secara intensif.
Perpindahan Kirana dari Bandung dan Subang ke Malang bertujuan untuk mengambil jarak serta mencari suasana baru dalam merawat idealisme. Ia kerap membagikan referensi karya sastra dari pujangga kenamaan seperti WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, hingga Widji Tukul.
Salah satu topik utama yang diangkat dalam korespondensi digital tersebut adalah kegundahan terhadap ketidakadilan sosial. Kirana mempertanyakan korelasi antara eksistensi ketuhanan dengan fenomena pejabat korup yang dianggap jarang mendapatkan musibah dibandingkan kelompok termarjinalkan.
“Jika Tuhan Ada, Kenapa para pejabat korup tidak pernah kena musibah sementara kelompok termarjinalkan terhempas bertubi-tubi?” tulis Kirana sebagaimana dikutip dari laporan Kumparan.
Rekan korespondensinya memberikan tanggapan bahwa jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut bukan sekadar kata-kata retoris, melainkan hasil dari perjalanan hidup. Pencarian kebenaran dinilai memerlukan niat yang tulus serta proses yang otentik dari dalam diri masing-masing individu.
Interaksi dalam laman tersebut sempat mengalami jeda panjang setelah pembahasan mengenai ontologi dan hakikat sesuatu. Kirana belum mengirimkan tulisan terbaru setelah mendapatkan refleksi mengenai pentingnya menghadapi masalah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
