April 23, 2026, oleh

timesindonesia, MALANG – Sri Wahyuni, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, menghasilkan disertasi tentang pengembangan model pembelajaran Well-being Based Learning (WBBL) untuk perguruan tinggi inklusi. Penelitian yang dilaksanakan pada pembelajaran mata kuliah Ortopedagogi di Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Lancang Kuning ini menunjukkan bahwa model yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan hasil belajar sekaligus mendukung kesejahteraan mahasiswa penyandang disabilitas.
Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa pendidikan tinggi inklusif tidak cukup hanya membuka akses bagi mahasiswa disabilitas, tetapi juga harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang mendukung kesejahteraan mereka secara utuh. Dalam praktiknya, mahasiswa disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan, mulai dari keterbatasan media pembelajaran, aksesibilitas, hingga dukungan akademik dan sosial. Kondisi tersebut dapat menurunkan motivasi, keterlibatan, dan kenyamanan mereka selama proses perkuliahan. Disertasi ini menegaskan bahwa pembelajaran di perguruan tinggi inklusi perlu bergerak dari sekadar ramah akses menuju benar-benar memperhatikan kesejahteraan fisik, emosional, dan sosial mahasiswa.
Judul disertasi Sri Wahyuni adalah “Pengembangan Model Pembelajaran Well-being Based Learning (WBBL) dalam meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa di Perguruan Tinggi Inklusi.” Fokus utamanya ialah merancang model pembelajaran yang dapat digunakan pada mata kuliah Ortopedagogi untuk mahasiswa Pendidikan Khusus, dengan menempatkan well-being sebagai dasar pengalaman belajar. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa model, tetapi juga buku model, panduan mengajar bagi dosen, dan modul pembelajaran bagi mahasiswa.
Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan, menguji validitas, menguji praktikalitas, dan menguji efektivitas model WBBL. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sri Wahyuni menggunakan pendekatan research and development dengan model ADDIE, yakni analysis, design, development, implementation, dan evaluation. Responden analisis kebutuhan terdiri atas 24 mahasiswa dan 2 dosen pengampu mata kuliah Ortopedagogi. Validasi model dilakukan oleh 5 ahli, sedangkan uji coba terbatas melibatkan 3 mahasiswa dan uji lapangan melibatkan 24 mahasiswa. Efektivitas model dianalisis menggunakan paired sample t-test dengan bantuan SPSS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model WBBL yang dikembangkan memenuhi kriteria kelayakan akademik dan implementatif. Hasil validasi memperlihatkan skor rata-rata 0,80–0,85, yang termasuk dalam kategori valid. Uji praktikalitas juga menunjukkan hasil positif, dengan skor rata-rata 81,77%–88,47%, sehingga model dinilai praktis digunakan oleh dosen maupun mahasiswa. Temuan ini memperlihatkan bahwa WBBL tidak hanya dapat dipahami secara konseptual, tetapi juga realistis untuk diterapkan dalam pembelajaran.
Temuan yang paling menonjol tampak pada hasil uji efektivitas. Nilai rata-rata pretest mahasiswa sebesar 50,63 meningkat menjadi 84,58 pada posttest, dengan hasil uji t berpasangan t(23) = -16,824; Sig. = 0,000. Ini berarti terdapat peningkatan hasil belajar yang signifikan setelah penerapan model WBBL. Selain meningkatkan pemahaman materi, model ini juga mendorong keterlibatan aktif mahasiswa melalui diskusi, kerja kelompok, presentasi, dan refleksi pembelajaran. Dengan demikian, kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi desain pembelajaran inklusif dengan dimensi kesejahteraan mahasiswa sebagai inti proses belajar, bukan sekadar unsur pendamping.
Secara ilmiah, disertasi ini memperkaya pengembangan model pembelajaran di perguruan tinggi inklusi dengan menempatkan well-being sebagai fondasi pedagogis. Secara praktis, hasil penelitian ini memberi rujukan bagi dosen, program studi, dan perguruan tinggi untuk merancang pembelajaran yang lebih manusiawi, adaptif, dan memberdayakan mahasiswa disabilitas. WBBL juga berpotensi mendukung penguatan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan tidak berhenti sebagai karya disertasi, tetapi dapat diimplementasikan lebih luas pada mata kuliah lain dan menjadi rujukan pengembangan kebijakan pembelajaran inklusif di perguruan tinggi. Dengan hadirnya model WBBL, pendidikan tinggi inklusi diharapkan semakin mampu menghadirkan proses belajar yang bukan hanya efektif secara akademik, tetapi juga menyejahterakan mahasiswa sebagai manusia seutuhnya.
—
Sumber: TIMES INDONESIA