April 24, 2026, oleh

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memacu kapasitas riset internasionalnya. Melalui forum “Sharing Session: Microbial Growth and Data Analysis” yang digelar pada Senin (20/4), Kampus Putih menghadirkan dua peneliti muda asal Austria untuk membedah teknologi bioreaktor mutakhir di hadapan para dosen eksakta.
Edo Damilyan, M.Sc., peneliti dari University of Vienna, menjelaskan bahwa memahami sel mikroba membutuhkan sudut pandang yang berbeda. Ia mengibaratkan kehidupan mikroba dengan sistem manajemen industri.
”Biologi sel mengandung banyak proses ekonomi, di mana sel mengubah input menjadi output di bawah batasan tertentu untuk memaksimalkan keuntungan pertumbuhannya,” papar Edo. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi bioreaktor sangat krusial bagi peneliti farmasi agar eksperimen berjalan presisi tanpa membuang banyak tenaga manual.
Sementara itu, Catalin Rusnac, M.Sc. dari IMC Krems University, mendemonstrasikan RepliFactory, sebuah bioreaktor otomatis berbasis open-source yang mampu menjalankan eksperimen selama berminggu-minggu tanpa henti.
”Dengan alat ini, kita dapat menjalankan program eksperimen simulasi secara otomatis, dan memantaunya langsung dari mana saja melalui koneksi internet,” ungkap Catalin. Teknologi ini memungkinkan peneliti memantau mutasi genetik adaptif pada bakteri secara real-time melalui sensor cahaya yang canggih.
Langkah strategis ini didukung penuh oleh jajaran pimpinan universitas. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., berharap forum ini menjadi pintu pembuka bagi para dosen untuk berkarier di kancah global.
”Pertemuan ini menjadi langkah awal. Harapannya, keluar dari ruangan ini para dosen memiliki motivasi yang tinggi untuk segera menempuh studi lanjut doktoral di luar negeri,” tegas Prof. Tri.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMM, Dr. Muhammad Salis Yuniardi, Ph.D., menekankan bahwa penguasaan teknologi adalah kunci internasionalisasi. ”Internasionalisasi tidak mungkin bisa dilakukan kalau kita selaku pengajar juga tidak memiliki kapasitas, kemampuan teknis, dan wawasan yang sifatnya benar-benar internasional,” pungkas Salis. (imm/udi)