April 28, 2026, oleh

Dr M Wahid Nur Tualeka dan Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah, pasangan suami istri yang sama-sama meraih gelar doktor pada Wisuda ke-121 Universitas Muhammadiyah Malang. (Istimewa/Klikmu.co)
Akhmad Isa Nasrullah SPsi
Mereka adalah Dr M Wahid Nur Tualeka SThI MPdI dan Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah SUd MPd—dua nama yang hari itu resmi disematkan gelar doktor dalam momen yang sama. Bukan sekadar kelulusan, tetapi pertemuan dua jalan panjang yang ditempuh dalam diam, doa, dan kesabaran yang tak selalu terlihat oleh publik.
Wisuda Kampus Putih yang dipimpin Rektor Prof Dr Nazaruddin Malik MSi bersama jajaran pimpinan universitas menjadi saksi bagaimana capaian akademik dapat terjalin seirama dengan perjalanan hidup. Turut hadir Wakil Rektor I Prof Akhsanul In’am PhD, Wakil Rektor II Dr Ahmad Juanda AkM MCA, Wakil Rektor III Dr Nur Subeki ST MT, Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, serta Wakil Rektor V Prof Dr Tri Sulistyaningsih MSi, beserta direktur pascasarjana, para dekan, kepala biro, dan dosen yang turut menyaksikan momentum istimewa tersebut.
Dr Wahid Nur Tualeka mengangkat tema yang relevan dengan dinamika keberagamaan kontemporer melalui disertasinya berjudul “Moderasi Beragama Perspektif Dakwah Elit Muhammadiyah di Kota Surabaya.” Penelitian ini kemudian melahirkan buku “Membangun Moderasi Beragama: Peran Dakwah Elit di Surabaya,” sebagai refleksi tentang bagaimana narasi moderasi dibangun melalui gerakan dakwah yang strategis dan berpengaruh.
Sementara itu, Dr Imtihanatul Ma’isyatuts Tsalitsah menghadirkan pendekatan yang tak kalah menarik melalui disertasinya berjudul “Pengembangan Bahan Ajar Integratif Multidisipliner pada Mata Kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan Ilmu Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya.” Karyanya melahirkan dua buku sekaligus, “Integrasi Islam dan Psikologi” serta buku ajar “Islam dan Psikologi.” Sebuah upaya menyatukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan beriringan namun belum sepenuhnya menyatu.
Dua disertasi, dua bidang kajian, tetapi satu benang merah: integrasi. Integrasi antara ilmu dan nilai, antara dakwah dan realitas sosial, antara psikologi dan spiritualitas. Dan mungkin, tanpa disadari, juga integrasi antara dua perjalanan hidup yang saling menguatkan.
Tidak banyak yang tahu bagaimana proses itu berlangsung. Tentang malam-malam panjang yang dipenuhi diskusi, tentang lelah yang mungkin datang bersamaan, atau tentang doa-doa yang saling dipanjatkan dalam diam. Namun justru di situlah letak kekuatan cerita ini—ia tidak selalu tampak, tetapi terasa.
Kisah ini bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi tentang makna kebersamaan dalam perjuangan. Bahwa ilmu tidak selalu ditempuh sendirian, dan keberhasilan tidak selalu berdiri di atas satu nama saja.
Di Dome UMM hari itu, dua gelar doktor disematkan. Namun lebih dari itu, ada sebuah pesan yang tertinggal: bahwa perjalanan ilmu, ketika dijalani bersama iman dan kesabaran, dapat melahirkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar gelar—ia menjadi cerita, inspirasi, dan jejak yang akan dikenang. (*)