May 11, 2026, oleh

Halopedeka.com – Generasi Z saat ini kerap dijuluki sebagai “Generasi Stroberi”—tampak menarik di luar namun dianggap rapuh saat menghadapi tekanan. Menanggapi fenomena ini, pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc. Prof. Nasrudin Subhi, menekankan pentingnya pembangunan resiliensi sebagai penawar utama agar kaum muda memiliki mental baja.
Dalam kuliah tamu internasional bertajuk From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (8/5/2026), Nasrudin menjelaskan bahwa tantangan pemuda masa kini telah bergeser.
Monster Siber dan Pola Asuh
Menurut Nasrudin, ancaman bagi mahasiswa bukan lagi sekadar beban akademik. “Kalian berhadapan dengan monster siber seperti perundungan online hingga jebakan penyalahgunaan zat berbahaya yang siap menggerus mental,” paparnya di hadapan peserta di Aula GKB IV.
Ia mengidentifikasi bahwa salah satu akar kerentanan ini berasal dari pola asuh keluarga modern yang cenderung terlalu memanjakan anak. Ketika remaja ini memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian penuh, mereka sering mengalami benturan realitas atau culture shock. Jika tidak ditangani, krisis transisi ini berisiko memicu depresi hingga tindakan agresif.
Membangun Benteng Pertahanan Diri
Untuk memutus rantai kerentanan tersebut, Nasrudin menawarkan strategi resiliensi mental melalui dua langkah utama:
- Sikap Asertif: Mahasiswa harus berani menetapkan batasan dalam pergaulan. “Ingat, kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri,” tegasnya.
- Dukungan Sosial yang Berkualitas: Regulasi emosi perlu didukung oleh lingkungan pertemanan yang sehat. Nasrudin mengingatkan agar mahasiswa selektif dalam memilih lingkaran sosial. “Jangan asal bergaul. Carilah teman yang tidak hanya hadir saat senang, tetapi kelompok sahabat yang bersedia menemani dan saling menegur di waktu susah,” pungkasnya.
Melalui kombinasi ketegasan diri dan jejaring sosial yang suportif, diharapkan Generasi Z mampu bertransformasi dari sosok yang rapuh menjadi pribadi yang tangguh menghadapi dinamika zaman.