May 13, 2026, oleh Humas Universitas

Sertifikasi gemini AI di UMM (Foto: Istimewa)

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama Google Education dan Indosat melatih serta membekali 30 dosen muda melalui program sertifikasi Gemini AI pada Selasa (12/5/2026). Program ini menjadi langkah strategis untuk memastikan tenaga pendidik mampu mengikuti percepatan perkembangan teknologi dan kebutuhan mahasiswa di era digital.

Melalui sertifikasi tersebut, para dosen diharapkan dapat mentransformasi metode pembelajaran agar lebih adaptif, interaktif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.

Google Education Specialist, Arija Rose Wanodya, menjelaskan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kini telah berkembang dari sekadar tren menjadi kebutuhan utama dalam dunia pendidikan.

“AI hadir untuk memberdayakan pendidik, bukan menggantikan peran mereka. Dengan asisten kolaboratif ini, tugas-tugas repetitif seperti penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), perancangan kuis, hingga pembuatan rubrik penilaian objektif dapat diselesaikan dengan presisi tinggi,” ujar Rose.

Ia menambahkan bahwa kehadiran AI dalam ekosistem Google Workspace for Education memberikan ruang lebih besar bagi dosen untuk fokus pada aspek pengajaran yang bersifat humanis, seperti bimbingan emosional, interaksi langsung, dan pembentukan karakter mahasiswa.

Senada dengan itu, Kepala Biro Informasi dan Komunikasi UMM, Dr. Ir. Suyatno, M.Si., menekankan pentingnya adaptasi teknologi di dunia pendidikan, terutama menghadapi perubahan perilaku mahasiswa yang semakin cepat dalam mengakses informasi.

Menurutnya, dosen harus mampu merancang metode pembelajaran yang lebih inovatif agar tidak tertinggal dari pola belajar mahasiswa yang sudah sangat digital.

“Baru saja kita menuliskan judul materi di papan tulis, mahasiswa sudah mencarinya sendiri di internet. Jika dosen tidak mampu meramu metode mengajar yang lebih cerdas dan inovatif, kita pasti akan tertinggal jauh di belakang mereka,” tegas Suyatno.

Ia juga menyoroti tantangan akademik saat ini, termasuk meningkatnya potensi plagiasi tugas akibat penggunaan AI yang tidak terkontrol, sehingga menuntut perubahan dalam sistem evaluasi pembelajaran.

Dalam arahannya kepada peserta pelatihan, Suyatno menegaskan pentingnya sikap adaptif terhadap teknologi, bahkan menyamakan penolakan terhadap AI dengan kegagalan beradaptasi pada era transformasi digital sebelumnya.

Kegiatan yang ditutup dengan ujian sertifikasi Gemini AI ini diharapkan mampu melahirkan dosen-dosen pionir literasi digital di lingkungan UMM, yang kemudian dapat menularkan pemahaman tersebut kepada rekan sejawat lainnya.

UMM menargetkan ekosistem pembelajaran yang lebih inklusif, inovatif, dan kompetitif secara global melalui pemanfaatan AI dalam proses pendidikan.

“Pemanfaatan AI ini bukan sekadar untuk gaya-gayaan, melainkan tuntutan nyata zaman. Jika kita memilih untuk bermusuhan dengan AI, maka kita sendiri yang akan kolaps. Kita harus mampu menjinakkan teknologi ini untuk kepentingan pendidikan,” pungkas Suyatno. [dan/beq]