May 15, 2026, oleh

readers.id – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merancang skema beasiswa khusus dan pengakuan sebagai mahasiswa berprestasi bagi para aktivis organisasi kampus untuk menghapus stigma negatif mengenai keterlambatan kelulusan pengurus organisasi. Rencana tersebut disampaikan dalam forum Dialektika Kampus Putih yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM di Convention Hall Sengkaling Kuliner, Sabtu (4/4/2026).
Kebijakan progresif ini bertujuan mengapresiasi kontribusi fungsionaris organisasi mahasiswa (Ormawa) yang selama ini dinilai memberikan dampak positif bagi reputasi perguruan tinggi. Sebagaimana dilansir dari Edukasi, pihak rektorat saat ini tengah merumuskan mekanisme teknis agar dukungan tersebut dapat segera diimplementasikan kepada para mahasiswa yang aktif di berbagai level organisasi.
Wakil Rektor III UMM Nur Subeki memberikan penegasan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam BEM, Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), hingga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) merupakan aset yang sangat berharga. Pihak universitas berkomitmen agar para aktivis tidak hanya memiliki kecakapan organisasi, tetapi juga mendapatkan jaminan dukungan finansial.
”Kami sedang mematangkan mekanisme beasiswa khusus bagi mahasiswa aktivis. Kami ingin mereka tidak hanya cakap dalam berorganisasi, tetapi juga merasa didukung secara finansial dan akademis oleh kampus,” ujar Nur Subeki, Wakil Rektor III UMM.
Selain dukungan berupa beasiswa, UMM berencana memasukkan aktivitas organisasi ke dalam kategori prestasi resmi mahasiswa. Nur Subeki menambahkan bahwa pembinaan ormawa juga mencakup pendampingan program peningkatan kapasitas dari tahap perencanaan hingga eksekusi di lapangan.
Presiden Mahasiswa UMM Wahyuddin Fahrurrijal menyambut baik inisiatif tersebut sebagai jawaban atas keresahan mahasiswa yang seringkali sulit menyeimbangkan antara tanggung jawab organisasi dengan beban finansial perkuliahan. Ia memandang dukungan kampus sebagai langkah strategis untuk meningkatkan minat mahasiswa dalam mengasah kemampuan interpersonal.
”Ini adalah langkah strategis. Selama satu periode ini, kami di BEM berusaha menjalankan program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mahasiswa,” tutur Wahyuddin Fahrurrijal, Presiden Mahasiswa UMM.
Dukungan ini juga dirasakan penting bagi perwakilan unit kegiatan yang seringkali merasa kontribusinya kurang mendapat pengakuan jika dibandingkan dengan pencapaian nilai akademik murni di dalam kelas. Adanya kategorisasi prestasi bagi aktivis dianggap sebagai bentuk penghargaan yang setara atas kerja keras mahasiswa di luar kurikulum formal.
“Selama ini kami sering merasa ‘pejuang di balik layar’ yang kurang terlihat. Dengan adanya kategori mahasiswa berprestasi bagi aktivis, kami merasa dihargai. Ini membuktikan UMM melihat prestasi secara luas, tidak hanya soal angka di KHS (Kartu Hasil Studi),” ungkap Siti Aminah, perwakilan UKM.