May 15, 2026, oleh Humas Universitas

Hasil daur ulang sampah organik. (Humas UMM/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus hijau melalui pengelolaan sampah organik berbasis sistem sirkular terintegrasi. Melalui program tersebut, UMM berhasil mengolah 92 persen sampah organik menjadi pupuk dan produk ramah lingkungan lainnya.

Ketua Tim GreenMetric UMM Sandi Wahyudiono MT menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga mendukung kebutuhan pupuk untuk ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.

“Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke TPA, tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujarnya.

Pada 2025, total sampah organik yang dihasilkan seluruh fasilitas UMM mencapai 438 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 402,9 ton atau sekitar 92 persen berhasil diolah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III.

Menurut Sandi, keberhasilan tersebut didukung implementasi program vermikompos yang menjadi inti pengelolaan sampah berkelanjutan di UMM. Sampah organik berupa sisa makanan, sayur, dan buah dari kantin, taman, serta kebun edukasi dipilah dan dicacah hingga berukuran 2–3 sentimeter.

Selanjutnya, material tersebut difermentasi dengan campuran bahan karbon seperti sekam padi dengan tingkat kelembapan 60–70 persen. Setelah melalui proses fermentasi selama 7–14 hari dalam reaktor tertutup, hasil olahan dipindahkan ke unit modular untuk proses vermikompos menggunakan cacing tanah jenis Eisenia fetida.

“Olahan sampah organik itu kemudian diurai oleh cacing tanah hingga menjadi pupuk kaya nutrisi,” jelasnya.

UMM juga didukung fasilitas pengolahan modern hasil pengembangan kampus, seperti mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos 100 kilogram per jam, dan granulator 100 kilogram per jam.

Setelah melalui proses selama 40–60 hari, kompos organik siap digunakan untuk taman kampus, kebun edukasi, hingga lahan pertanian mitra.

Selain menghasilkan kompos, limbah kantin berupa kulit sayur dan buah juga diolah menjadi eko-enzim. Program edukasi yang dijalankan setiap hari di UMM Edupark mampu memproduksi lebih dari lima liter cairan eko-enzim per hari.

Capaian ini memperkuat posisi UMM sebagai salah satu kampus yang aktif mendorong praktik berkelanjutan dan aksi ramah lingkungan di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.

(Faqih/AS)