May 19, 2026, oleh Humas Universitas

Malang (beritajatim.com) – Buku Nasional yang jatuh setiap tanggal 17 Mei mengingatkan salah satu sosok berpengaruh dibaliknya, Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. Tokoh besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga mantan Menteri Pendidikan Nasional tersebut merupakan visioner di balik lahirnya peringatan Hari Buku Nasional.

Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Dr. Faizin, M.Pd., menjelaskan bahwa pencetusan Hari Buku Nasional oleh mendiang Malik Fadjar merupakan sebuah langkah konkret untuk menyelamatkan nalar bangsa. Menurutnya, Malik Fadjar selalu memandang akar masalah utama Indonesia bukan sekadar rendahnya angka minat baca, melainkan melemahnya tradisi berpikir di mana buku sering kali direduksi hanya sebagai pelengkap administratif di bangku sekolah.

”Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin saat diwawancarai Senin (18/5/2026).

”Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkap Faizin saat diwawancarai Senin (18/5/2026).

Kesadaran akan bahaya krisis nalar ini pula yang memicu kegelisahan mendalam Malik Fadjar semasa hidupnya hingga berjuang mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi memastikan ekosistem literasi tidak mati di kota pelajar tersebut, ia bahkan rela menghibahkan ribuan buku dari koleksi pribadinya agar dapat diakses secara luas oleh masyarakat umum.

”Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tak boleh ditinggalkan oleh generasi muda,” kenang Faizin.

​Faizin menegaskan bahwa Prof. Malik senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran tokoh Muhammadiyah tersebut, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi keberlangsungan demokrasi di Indonesia.

“Saat ini, tanggung jawab besar untuk merawat nyala literasi tersebut diteruskan oleh RBC A. Malik Fadjar Institute. Lembaga ini telah bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik melalui empat program unggulan, yaitu Ruang Gagasan, Riset Pengembangan Mutu Pendidikan, Pendampingan Pengembangan Lembaga,” kata Faizin menutup. [dan/aje]