May 19, 2026, oleh

MAKLUMAT — Nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh rekor terburuk di Rp17.658 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi (18/5/2026). Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah menyebut hal ini sebagai ancaman nyata.
“Gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di AS belakangan ini telah menekan nilai tukar rupiah secara signifikan. Ini ancaman nyata yang diam-diam menyusup ke dapur dan dompet masyarakat luas,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Maklumat.id pada Senin (18/5/2026).
Yunan menjelaskan bahwa kenaikan dolar memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor.
“Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi juga naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” jelasnya.
Ia juga mencermati banyaknya narasi yang beredar bahwa masyarakat akan aman karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal biaya hidup masyarakat akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal yang diakibatkan lemahnya nilai tukar rupiah.
“Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor, mereka akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.
Strategi Finansial Saat Dolar Melonjak
Menghadapi situasi lemahnya nilai tukar rupiah yang fluktuatif ini, Yunan menyarankan masyarakat untuk tidak panik. Ia mengajak masyarakat agar memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak.
“Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelasnya.
Di tengah ancaman inflasi ini, Yunan juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan. Salah satunya seperti kebiasaan menggunakan paylater.
“Kebiasaan masyarakat kita seperti hobi paylater ini membuat terlena. Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya.
Sebagai langkah penyelamatan, masyarakat diimbau untuk segera mengevaluasi kembali arus kas (cash flow) pribadinya masing-masing. Berhenti berlangganan layanan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif, dinilai sebagai langkah darurat yang wajib diambil.
Dalam kondisi kurs yang tengah bergejolak, Yunan menjelaskan bahwa stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa sehat dan rasional individu mengelola keuangannya.
Kendati demikian, Yunan juga mendorong generasi muda untuk melihat fenomena penguatan dolar ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global.
“Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar saat ini dapat menjadi peluang saat rupiah melemah,” jelasnya.