May 19, 2026, oleh Humas Universitas

Akademisi UMM Sebut Pelemahan Rupiah Berdampak pada Kebutuhan Rumah Tangga, Termasuk di Kota Malang
ISTIMEWA
RUPIAH LEMAH – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan Syaifullah. Ia meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, termasuk di Kota Malang.

Ringkasan Berita:

  • Dosen Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Yunan Syaifullah, meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, khususnya di Kota Malang
  • Pelemahan rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Pengajar ekonomi pembangunan Universitas Muhammadiyah malang (UMM), Yunan Syaifullah, meyakini bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak pada kebutuhan rumah tangga masyarakat, termasuk di Kota Malang.

Dalam keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Humas Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Yunan menjelaskan, pelemahan rupiah memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada bahan impor.

“Tentu harga bahan pokok yang naik, seperti tahu tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri.”

“Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, sehingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal,” ungkapnya, Senin (18/5/2026).

Banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung, padahal menurut Yunan, biaya hidup mereka akan tetap membengkak seiring naiknya biaya produksi industri lokal.

“Sebenarnya beli atau tidaknya mereka terhadap barang impor akan tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, biaya produksi juga naik.”

“Pelemahan rupiah ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.

Menghadapi situasi fluktuatif ini, ia menyarankan masyarakat untuk tidak panik, melainkan memastikan dana darurat aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak.

“Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolaar seperti gawai.”

“Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, dan saham sektor defensif secukupnya saja untuk mengurangi risiko,” jelas Yunan.

Di tengah ancaman pelemahan Rupiah ini, ia juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan.

“Kebiasaan masyarakat hobi pay later ini membuat terlena.”

“Kebiasaan ini membuat ilusi kita punya uang lebih padahal itu utang.”

“Bunga dan denda jika terlambat membayar dapat menguras habis uang kita,” tambahnya.

Yunan mendorong masyarakat untuk melihat fenomena pelemahan rupiah ini sebagai momentum emas mencari peluang penghasilan mandiri dari pasar global.