May 21, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern pada 2026, ancaman matinya nalar menjadi tantangan besar bangsa. Pada peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei lalu, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan tersebut, mendiang Prof Dr H Abdul Malik Fadjar MSc.
Tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Menteri Pendidikan Nasional itu bukan sekadar birokrat, melainkan visioner yang mendedikasikan hidupnya bagi penguatan literasi bangsa.
Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM Dr Faizin MPd menjelaskan, Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga melemahnya tradisi berpikir. Buku, menurutnya, kerap direduksi sekadar pelengkap pendidikan formal.
“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ujarnya.
Faizin memaparkan, keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 merupakan bentuk rekayasa budaya yang disengaja. Momentum 17 Mei dipilih untuk menghubungkan buku dengan gerakan nasional sekaligus menyadarkan publik bahwa literasi merupakan pilar kebangsaan.
“Sebagai pencetus, beliau melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional. Literasi benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya.
Kesadaran akan bahaya krisis nalar itu pula yang mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi menjaga ekosistem literasi tetap hidup di Kota Pendidikan tersebut, tokoh Muhammadiyah itu menghibahkan ribuan buku koleksi pribadinya agar dapat diakses publik secara luas.
“Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tidak boleh ditinggalkan generasi muda,” kenang Faizin.
Kini, semangat itu diteruskan RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Upaya tersebut diwujudkan melalui empat program unggulan, yakni Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan pengembangan lembaga pendidikan, serta perpustakaan keliling Mobil Bakti Untuk Bangsa.
Perjalanan panjang dan keteladanan Malik Fadjar meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukan sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar.
(Faqih/AS)