May 21, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Gejolak geopolitik global dan tingginya suku bunga di Amerika Serikat belakangan ini menekan nilai tukar rupiah secara signifikan. Pelemahan tersebut bukan sekadar angka di layar bursa, melainkan ancaman nyata yang perlahan memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat.
Menanggapi fenomena ini, Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Yunan Syaifullah MSc membagikan pandangan kritis sekaligus solusi praktis agar masyarakat tetap tangguh secara finansial.
Yunan menjelaskan, kenaikan dolar memicu efek berantai yang langsung membebani pengeluaran rumah tangga, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan impor.
“Tentu harga bahan pokok ikut naik, seperti tahu dan tempe karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi juga naik karena Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan energi. Akibatnya, belanja bulanan masyarakat menjadi lebih mahal,” ungkapnya, Ahad (17/5/2026).
Menurutnya, banyak masyarakat merasa aman karena tidak membeli barang impor secara langsung. Padahal, biaya hidup tetap meningkat karena biaya produksi industri lokal ikut terdampak.
“Sebenarnya, beli atau tidak barang impor, masyarakat tetap terkena efek berantai mulai dari BBM naik, bahan baku naik, hingga biaya produksi meningkat. Kenaikan dolar ini memberi dampak pada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.
Menghadapi situasi fluktuatif tersebut, Yunan menyarankan masyarakat agar tidak panik, melainkan memastikan dana darurat tetap aman dan menunda konsumsi yang tidak mendesak.
“Prioritaskan kebutuhan utama terlebih dahulu dan tunda pembelian yang sensitif terhadap dolar seperti gadget baru. Namun, untuk menjaga nilai aset jangka panjang, sebagian tabungan bisa didiversifikasi ke emas, reksadana, maupun saham sektor defensif secukupnya untuk mengurangi risiko,” jelasnya.
Di tengah ancaman inflasi, Yunan juga menyoroti bahaya kebiasaan menggunakan layanan kredit instan yang dapat menciptakan ilusi finansial dan berpotensi menguras tabungan.
“Kebiasaan masyarakat seperti hobi paylater membuat terlena. Kebiasaan ini menciptakan ilusi seolah memiliki uang lebih, padahal itu utang. Bunga dan denda jika terlambat membayar bisa menguras habis uang kita,” tambahnya.
Meski demikian, ia mendorong generasi muda untuk melihat penguatan dolar sebagai peluang mencari penghasilan dari pasar global.
“Sekarang anak muda bisa mempelajari skill digital dan membangun side hustle sesuai minat, misalnya menjadi konten kreator atau copywriter. Skill yang bisa menghasilkan pendapatan dolar justru menjadi peluang saat rupiah melemah,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, masyarakat diimbau segera mengevaluasi arus kas pribadi. Mengurangi langganan yang tidak krusial dan memangkas gaya hidup konsumtif dinilai menjadi langkah penting di tengah gejolak kurs. Dalam situasi seperti ini, stabilitas ekonomi seseorang tidak selalu ditentukan oleh besarnya penghasilan, melainkan oleh kemampuan mengelola keuangan secara sehat dan rasional.
(Faqih/AS)