May 25, 2026, oleh Humas Universitas

Foto bersama setelah acara Kamisan: Warisan Abadi selesai. (Foto: Maura Sampetoding)

Malang, Tugumalang.id – Dukungan terhadap sineas muda Tanah Air kembali terlihat melalui acara pemutaran film bertajuk Kamisan: Warisan Abadi yang digelar di Rumah Budaya Ratna pada Rabu (21/5/2026). Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut menjadi ruang apresiasi karya bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang dalam praktikum Content Provider and Publisher.

Dalam kegiatan tersebut, dua film pendek ditayangkan, yakni “Ater-Ater” karya Dwara Sinema dan “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” karya Javania Creative Noesantara. Kedua film hadir dengan tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat dan anak muda, mulai dari tradisi budaya hingga persoalan emosional yang sering dipendam sendiri.

Film “Ater-Ater” Angkat Tradisi Jawa dan Nilai Kebersamaan

Film pertama, “Ater-Ater”, ditulis oleh Zalva Alivia Yasmin dan terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Film ini mengangkat tradisi Jawa ater-ater, yakni kebiasaan berbagi atau mengantarkan makanan kepada kerabat maupun tetangga sebagai bentuk menjaga hubungan sosial dan kebersamaan.

Situs & Bangunan Bersejarah

Cerita berfokus pada seorang perempuan yang pulang ke kampung halamannya, tetapi merasa enggan mengikuti tradisi tersebut. Pandangannya perlahan berubah setelah bertemu dengan seorang pemuda bernama Rangga. Dengan sentuhan romansa ringan, film ini menunjukkan bahwa ater-ater bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan bagian dari nilai kehidupan masyarakat yang mampu mempererat hubungan antarmanusia.

Menariknya, karya tersebut awalnya dikembangkan dalam bentuk dokumenter sebelum akhirnya diadaptasi menjadi film pendek fiksi untuk kebutuhan praktikum kampus.

“A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” Soroti Kesehatan Mental Anak Muda

Sementara itu, film kedua berjudul “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap” mengangkat isu kesehatan mental dan pentingnya memiliki ruang untuk bercerita. Film ini berkisah tentang Rendra, seorang pelukis yang mengalami tekanan batin ketika menerima pesanan lukisan keluarga.

Kegelisahan yang dipendam membuat hubungannya dengan sang kekasih, Putri, ikut terdampak karena Rendra memilih menutup diri. Konflik berkembang ketika Rendra akhirnya mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak mendapatkan pengakuan dari orang tuanya atas profesi yang dijalani.

Namun, Putri mencoba meyakinkannya bahwa melukis tetap merupakan pekerjaan yang layak dan berarti. Dukungan tersebut membuat Rendra perlahan berani menyelesaikan pesanannya sekaligus membuka kembali komunikasi dengan keluarganya.

Sutradara film “A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap”, Shaggil Mahara, mengatakan bahwa film tersebut lahir dari keresahan terhadap banyaknya orang yang tidak memiliki tempat untuk menceritakan luka dan masalahnya.

“Tapi sejatinya manusia butuh tempat untuk bercerita,” kata Shaggil Mahara.

Ia berharap film tersebut dapat diputar di lebih banyak tempat agar pesan yang dibawa bisa menjangkau masyarakat luas. Menurutnya, meningkatnya kasus menyakiti diri sendiri hingga mengakhiri hidup berkaitan dengan minimnya ruang aman untuk berbagi cerita dan emosi.

Melalui film ini, penonton diharapkan lebih berani membuka diri kepada orang-orang terdekat dan terpercaya, karena bercerita dapat menjadi langkah awal untuk mencari solusi.

Antusiasme Penonton Hidupkan Suasana Pemutaran Film

Acara pemutaran film berlangsung meriah dengan antusiasme penonton yang memenuhi area Rumah Budaya Ratna. Selain sesi pemutaran film, panitia juga menghadirkan berbagai kegiatan interaktif seperti ice breaking, diskusi, dan tanya jawab bersama para pembuat film.

Suasana semakin hangat ketika penonton mendapatkan konsumsi berupa ater-ater setelah penayangan film pertama, selaras dengan tema budaya yang diangkat. Kehadiran photobooth di area acara juga menjadi daya tarik tersendiri untuk mengabadikan momen bersama para pengunjung dan sineas muda yang terlibat.

Acara pemutaran film ini tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga wadah apresiasi bagi karya sineas muda Tanah Air. Melalui tema-tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat, Kamisan: Warisan Abadi menunjukkan bahwa karya mahasiswa mampu menghadirkan pesan sosial dan budaya yang relevan.

Kehadiran acara seperti ini diharapkan dapat terus mendukung perkembangan industri kreatif sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi anak muda untuk berkarya dan menyampaikan cerita mereka kepada publik.