May 25, 2026, oleh Humas Universitas

Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023 ini sukses mendobrak stereotip tersebut dengan menaklukkan ganasnya sirkuit di ujung timur Indonesia. (Foto: Istimewa)

Di era gempuran digitalisasi di mana mahasiswa teknologi kerap diidentikkan dengan gaya hidup sedentary atau minim gerak di depan layar komputer, Javier Bhagawanta justru membuktikan ketangguhannya di atas medan berlumpur. Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2023 ini sukses mendobrak stereotip tersebut dengan menaklukkan ganasnya sirkuit di ujung timur Indonesia. Ia berhasil mengukir sejarah dengan meraih gelar bergengsi Juara Umum pada ajang balap ekstrem Motocross & Grasstrack Kejurda Bupati Keerom Cup Seri II 2026.

Berlaga pada 15 hingga 17 Mei 2026 di Sirkuit Yuwanain, Arso II, Kabupaten Keerom, Papua, Javier menunjukkan dominasi mutlak yang mengundang decak kagum. Berdasarkan hasil akhir kejuaraan, ia tidak hanya mengamankan satu podium, melainkan memborong tujuh piala sekaligus. Javier dinobatkan sebagai Juara Umum Setanah Papua U-23 setelah menyapu bersih posisi pilar: Juara 1 Kelas Sport & Trail (Kategori JU Setanah Papua U-23) dan Juara 2 Kelas Trail Standar 4L 155cc. Tak berhenti di situ, ia juga mendominasi Kategori JU Setanah Papua dengan meraih Juara 3 Kelas Sport & Trail, Juara 4 Kelas Bebek Modif 4T Tune Up, dan Juara 5 Kelas Special Engine 125-250cc, serta melengkapinya dengan menjuarai posisi ke-2 di Kelas Bebek Standar 2T 4T Open.

Perjalanan menyabet deretan trofi tersebut dilaluinya dengan rintangan yang tak mudah, mengingat ia sempat mengalami penurunan kondisi fisik drastis hingga harus total menghentikan porsi latihannya seminggu sebelum keberangkatan. Setibanya di arena balap, ia juga dipaksa cepat beradaptasi dengan karakter sirkuit yang menantang serta menghadapi kepungan pembalap-pembalap level nasional dari Merauke.

“Tantangannya cukup sulit karena sirkuitnya tidak sebagus pada umumnya, ditambah saya juga bermain dan bersaing langsung bersama para atlet nasional,” ungkapnya.

Untuk mengatasi tekanan berat di lintasan, Javier menyadari bahwa kesiapan mental adalah fondasi utama yang harus dibangun berdampingan dengan manajemen waktu. Ia sangat disiplin menyeimbangkan rutinitas kuliahnya dengan lari sore di lapangan kampus UMM dan rutin pulang ke Kediri setiap akhir pekan untuk mengasah kendali motor. Ia meyakini bahwa nyali yang ciut saat menatap pesaing di garis start adalah awal dari sebuah kekalahan.

“Kalau mental tidak terbentuk, kita melihat lawan itu pasti sudah down duluan. Maka dari itu, mental dalam olahraga motocross ini sangat penting,” tegas pemuda yang sudah rutin mengikuti kejuaraan sejak dini ini.

Pencapaian luar biasa ini tak lepas dari ekosistem pembinaan non-akademik Kampus Putih UMM yang sangat inklusif. Universitas secara nyata mewujudkan dukungannya melalui pemberian kemudahan perizinan akademik hingga skema insentif prestasi yang memberikan ruang bebas bagi mahasiswa untuk bersinar dan berdampak di luar disiplin ilmu utamanya.

Kini, deretan piala kebanggaan tersebut ia persembahkan untuk kedua orang tua dan sahabatnya di Papua, seraya mematangkan ketahanan fisik dan mesin motor untuk menyambut Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Regional pada Juli mendatang. Di akhir, ia menitipkan pesan pembuktian bagi generasi muda agar tidak ragu mengeksplorasi potensi diri di luar zona nyaman.

“Jangan pernah takut mencoba, jalani saja sembari kuliah, jangan malu-malu untuk menunjukkan kemampuan di bidangmu selagi itu positif,” pungkasnya.(*ali/faq)

 

Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman