May 28, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun menuai sorotan. Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Arina Restian, menilai aturan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak diiringi peningkatan kompetensi pedagogi guru dan penyesuaian manajemen sekolah dasar.
Arina menegaskan, pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk menangani anak usia 7 hingga 12 tahun.
“Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ujarnya, Minggu (25/5/2026).
Menurut dosen PGSD UMM tersebut, Kemendikdasmen perlu segera menggelar pelatihan khusus bagi guru kelas satu SD agar mereka mampu menghadapi karakter anak usia dini, termasuk dalam mengelola emosi dan tantrum siswa.
Selain peningkatan kompetensi guru, Arina menilai sekolah dasar juga harus melakukan penyesuaian manajemen pembelajaran. Ia menyebut ada tiga langkah penting yang perlu diterapkan sekolah.
Pertama, sekolah perlu menghadirkan Kelas 1 Transisi dengan suasana belajar yang ramah anak dan memiliki sudut bermain. Kedua, sekolah perlu melakukan asesmen awal selama masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa. Ketiga, sekolah harus membangun komunikasi intensif dengan orang tua terkait ekspektasi akademik anak.
“Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya.
Arina juga membagikan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan guru agar anak tidak tertekan pada masa awal sekolah. Menurutnya, anak usia 5,5 tahun umumnya hanya mampu fokus selama sekitar 15 menit.
Karena itu, pendekatan belajar di kelas perlu menerapkan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain”.
“Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” jelasnya.
Sebagai penutup, Arina mengingatkan agar kebijakan pelonggaran usia masuk SD tidak diterapkan secara pukul rata. Menurutnya, aturan tersebut sebaiknya tetap bersifat opsional dengan asesmen kesiapan psikologis anak yang lebih ketat.
Ia juga meminta pemerintah segera menyiapkan lokakarya pedagogi bagi guru kelas satu SD serta merilis modul praktis transisi PAUD ke SD.
“Jika evaluasi tahunan menunjukkan lonjakan stres anak atau angka putus sekolah di awal jenjang dasar meningkat, pemerintah harus berani merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak,” tandasnya.
(Faqih/AS)