May 26, 2026, oleh

Panggung prestasi tak melulu menjadi milik dosen dan mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik) nyatanya juga mampu unjuk gigi dan mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Agung Prabowo, seorang tendik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses menembus 10 besar harapan dalam kompetisi bergengsi Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA).
Kompetisi bergengsi yang digagas oleh komunitas Forum Lingkar Pena sejak tahun 2011 tersebut mengangkat tema besar “Indonesiaku”. Pada ajang tahun ini, peserta dari berbagai penjuru Nusantara bersaing ketat untuk memperebutkan posisi terbaik yang dinilai langsung oleh sastrawan kenamaan nasional, Helvy Tiana Rosa. Agung menjelaskan bahwa karyanya berhasil lolos kurasi dari ratusan naskah yang masuk untuk kemudian dibukukan bersama penulis-penulis hebat lainnya.
“Pesertanya sekitar 120 orang, lalu dikurasi menjadi sekitar 70 karya untuk dibukukan oleh Helvy Tiana Rosa. Alhamdulillah, saat diumumkan pada 16 mei lalu, karya saya masuk 10 besar harapan,” ungkapnya.
Prestasi ini diraih lewat karya puisinya yang bertajuk “Ironi di Negeriku”. Puisi tersebut menjadi medium kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah yang memicu ketimpangan, utamanya dalam menghargai perjuangan di dunia pendidikan formal. Ia menyoroti fenomena di mana gelar akademik seolah kehilangan nilainya di tengah dinamika program-program baru yang menuai pro dan kontra di masyarakat.
“Puisi itu tentang ironi negeri ini. Ada program-program yang menurut saya terasa tidak adil bagi mereka yang sudah berjuang menempuh pendidikan sarjana bertahun-tahun,” tegasnya.
Bagi pria yang kesehariannya bertugas di balik layar administrasi kampus ini, sastra adalah wadah elegan untuk menyampaikan kritik. Menariknya, rekam jejak Agung sebelumnya lebih banyak berkutat pada literatur nonfiksi, sehingga puisi menjadi medium baru untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa keuntungan terbesar dari ajang ini adalah kesempatan bersejarah bersanding dengan tokoh sastra Indonesia.
“Sebelumnya saya banyak menulis buku nonfiksi. Tapi belakangan ini saya ingin mencoba tantangan baru lewat puisi,” paparnya.
Lewat puisinya, Agung tidak sekadar menata kata, tetapi mengirimkan pesan kuat. Ia membuktikan bahwa semangat literasi, ketajaman berpikir kritis, dan prestasi gemilang dapat lahir dari siapa saja yang memiliki tekad, termasuk dari mereka yang selama ini sunyi bekerja menjaga denyut nadi universitas. (*rik/faq)
Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman