June 2, 2026, oleh Humas Universitas

Malangpariwara.com – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, profesi kreator konten kini tidak lagi sekadar aktivitas sampingan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang.

Kemampuan membangun audiens, mengelola komunikasi digital, hingga menciptakan konten yang menarik telah menjelma menjadi kompetensi yang diperhitungkan di dunia pendidikan maupun industri kreatif.

Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan lahirnya berbagai inovasi dalam sistem penerimaan mahasiswa baru, termasuk yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Jalur Influencer.

Program ini membuka ruang bagi generasi muda yang memiliki rekam jejak kuat di media sosial untuk mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengembangkan potensi kreatifnya.

Salah satu sosok yang merasakan langsung manfaat program tersebut adalah Dinda Nur Aisyah atau yang akrab disapa Ayca.

Alumni Program Studi Ilmu Komunikasi UMM itu berhasil mengubah konsistensinya membuat konten menjadi pintu masuk menuju pendidikan tinggi, bahkan mengantarkannya memperoleh pekerjaan hanya beberapa hari setelah menyelesaikan studi.

Ayca mengawali perjalanannya sebagai kreator konten dengan membagikan aktivitas keseharian dan ulasan produk kecantikan melalui berbagai platform media sosial.

Saat itu, ia tak pernah membayangkan bahwa aktivitas yang dijalani secara konsisten tersebut suatu saat dapat menjadi modal penting untuk melanjutkan pendidikan.

Keraguan sempat menghampiri ketika ia mengetahui adanya Jalur Influencer UMM.

Menurutnya, konten yang ia buat tidak berfokus pada edukasi sebagaimana yang banyak dilakukan kreator lain. Namun, pandangan tersebut berubah ketika mengetahui bahwa kampus tidak hanya menilai jenis konten yang diproduksi, melainkan juga kemampuan membangun komunikasi dengan audiens secara efektif.

“Awalnya aku pesimis karena kontenku bukan konten edukasi. Tapi ternyata UMM tetap melihat potensi dari cara kita membangun audiens dan komunikasi di media sosial. Kampus juga melihat kemampuan kreator dalam membangun audiens dan komunikasi digital,” ujarnya.

Dengan jumlah pengikut yang telah menembus lebih dari 100 ribu akun—sepuluh kali lipat dari syarat minimum yang ditetapkan kampus—Ayca berhasil lolos seleksi dan memperoleh potongan biaya pendidikan sebesar 50 persen.

Namun, perjalanan sebagai mahasiswa sekaligus kreator konten bukan tanpa tantangan. Di tengah tuntutan perkuliahan, praktikum, serta aktivitas produksi konten yang harus terus berjalan, Ayca dituntut memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik.

Baginya, disiplin menjadi kunci utama untuk menjaga keseimbangan antara dunia akademik dan aktivitas digital.

Selama menempuh studi di Program Ilmu Komunikasi, berbagai kegiatan praktikum menjadi sarana untuk mengasah kemampuan profesional yang selama ini hanya dipelajari secara mandiri.

Di sisi lain, keterlibatannya dalam tim digital UMM memperluas wawasan mengenai strategi komunikasi modern yang dibutuhkan industri saat ini.

“Praktikum di komunikasi benar-benar melatih disiplin dan tanggung jawab. Itu yang paling kepakai sampai sekarang waktu kerja. Selain perkuliahan, keterlibatanku di digital team UMM menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan karier. Lingkungannya membuatku lebih memahami strategi konten, algoritma media sosial, hingga cara membangun audiens yang lebih luas,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga ketika memasuki dunia kerja. Relasi yang terbangun selama kuliah, kemampuan teknis yang terus diasah, serta pemahaman mendalam mengenai tren digital membuat Ayca tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan.

Hanya berselang satu minggu setelah wisuda, ia langsung direkrut sebagai content creator di sebuah klinik kecantikan.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang diperoleh melalui aktivitas kreatif di media sosial dapat memiliki nilai ekonomi dan profesional yang nyata ketika didukung pendidikan yang tepat.

Kisah Ayca sekaligus mencerminkan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia pendidikan tinggi.

Kampus kini tidak lagi hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga berperan sebagai inkubator talenta digital yang membantu mahasiswa mengembangkan potensi sesuai kebutuhan industri masa depan.

Di tengah maraknya penggunaan media sosial oleh generasi muda, pengalaman Ayca menghadirkan pesan penting bahwa platform digital dapat menjadi sarana membangun masa depan yang menjanjikan.

Dengan kreativitas, konsistensi, dan tanggung jawab, media sosial tidak sekadar menjadi ruang berbagi cerita, melainkan jembatan menuju pendidikan, karier, dan peluang profesional yang semakin luas. (Djoko W)