June 3, 2026, oleh Humas Universitas

Ilustrasi. Aktivitas belajar siswa kelas awal sekolah dasar

POJOKSATU.id Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang memperbolehkan siswa baru jenjang Sekolah Dasar (SD) berusia di bawah 7 tahun untuk bersekolah kembali menjadi perhatian para pemerhati pendidikan.

Aturan tersebut memungkinkan anak yang belum genap berusia 7 tahun untuk masuk SD selama dinilai telah memiliki kesiapan mengikuti proses pembelajaran.

Kebijakan ini sejalan dengan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 yang menempatkan kesiapan belajar sebagai salah satu pertimbangan penting dalam penerimaan peserta didik.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Arina Restian, mengusulkan agar sekolah mulai menyiapkan desain “Kelas 1 Transisi” untuk mengakomodasi kebutuhan siswa yang masuk SD pada usia lebih muda.

Menurut Arina, apabila jumlah siswa berusia di bawah 7 tahun cukup banyak, sekolah tidak bisa hanya menerima peserta didik baru lalu menjalankan proses pembelajaran seperti biasa.

“Kelas 1 Transisi” dinilai dapat menjadi solusi agar proses adaptasi berlangsung lebih nyaman bagi anak-anak yang baru berpindah dari lingkungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menuju pendidikan dasar.

Kelas 1 Transisi dengan Konsep Bermain

Arina menjelaskan bahwa Kelas 1 Transisi perlu dirancang dengan pendekatan yang berbeda dibanding kelas reguler.

Tata ruang kelas, misalnya, sebaiknya memiliki sudut-sudut bermain yang memungkinkan anak tetap belajar sambil mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Pendekatan ini dianggap lebih sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini yang masih membutuhkan aktivitas bermain sebagai bagian dari proses belajar.

Selain itu, sekolah juga perlu melakukan asesmen awal selama masa orientasi.

Namun asesmen tersebut bukan untuk menilai kemampuan akademik secara ketat, melainkan untuk memetakan kebutuhan individual setiap anak.

Hasil pemetaan itu nantinya dapat menjadi dasar bagi guru dalam menentukan strategi pembelajaran yang sesuai.

Arina juga menekankan pentingnya komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua sejak awal tahun ajaran.

Komunikasi tersebut diperlukan agar kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai target perkembangan anak dan tidak memberikan ekspektasi akademik yang berlebihan.

“Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” ujar Arina, dikutip dari laman resmi UMM, Kamis 28 Mei 2026.

Guru SD Perlu Memahami Pendekatan PAUD

Tidak hanya siswa yang perlu beradaptasi, Arina menilai guru kelas 1 SD juga membutuhkan pembekalan tambahan untuk menghadapi peserta didik yang usianya lebih muda.

Menurutnya, selama ini pendidikan guru SD umumnya lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk menangani anak usia 7 hingga 12 tahun.

Sementara karakteristik anak berusia 5 hingga 6 tahun memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda.

Karena itu, pembekalan ilmu pedagogi PAUD bagi guru kelas awal SD dinilai menjadi agenda penting yang perlu mendapat perhatian Kemendikdasmen.

Jika proses adaptasi ini diabaikan, guru berpotensi mengalami kesulitan saat menghadapi perilaku anak yang masih berada pada fase perkembangan awal, termasuk tantrum dan pengelolaan emosi.

Tanpa pelatihan yang memadai, standar pembelajaran untuk anak usia 7 tahun bisa saja diterapkan kepada murid yang usianya lebih muda.

“Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegas Arina.

Tips Mengajar Siswa SD di Bawah Usia 7 Tahun

Arina juga membagikan sejumlah strategi yang dapat diterapkan guru pada minggu-minggu awal pembelajaran.

Menurutnya, rentang fokus anak usia sekitar 5,5 tahun umumnya hanya berkisar 15 menit. Karena itu, proses pembelajaran perlu dirancang secara singkat dan menyenangkan.

Ia menyarankan guru menerapkan prinsip “Singkat, Bergerak, dan Bermain” dalam kegiatan belajar sehari-hari.

Salah satu metode yang bisa digunakan adalah pola 15-5-15, yakni 15 menit kegiatan inti, dilanjutkan 5 menit aktivitas bergerak atau bernyanyi, kemudian kembali ke kegiatan belajar selama 15 menit.

Selain itu, guru juga dianjurkan menghindari pemberian lembar kerja yang terlalu banyak pada masa awal sekolah.

Anak perlu diberikan pilihan-pilihan sederhana dalam kegiatan belajar agar tidak merasa terlalu dikontrol.

“Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” ujarnya.

Usulan Kelas 1 Transisi ini menjadi pengingat bahwa kesiapan masuk sekolah tidak hanya soal usia, tetapi juga bagaimana lingkungan belajar mampu mendukung proses tumbuh kembang anak.

Ketika sekolah, guru, dan orang tua dapat berjalan bersama, masa transisi menuju pendidikan dasar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus membangun fondasi belajar yang kuat bagi anak di tahun-tahun berikutnya. ***