May 30, 2026, oleh Humas Universitas

Dinda Nur Aisyah, alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UMM. (Foto: Istimewa)

Di era digital saat ini, profesi content creator tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Kemampuan membangun engagement di media sosial kini diakui sebagai kompetensi berharga yang setara dengan prestasi akademik. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan komitmennya dalam merespons tren creator economy ini melalui Jalur Influencer. Dinda Nur Aisyah, atau yang akrab disapa Ayca, adalah salah satu bukti nyata kesuksesan adaptasi tersebut. Alumnus Program Studi Ilmu Komunikasi UMM ini tak hanya berhasil meraih kursi perguruan tinggi berkat konsistensi membuat konten, tetapi juga sukses mengasah keahliannya hingga langsung terserap di dunia kerja sesaat setelah wisuda.

Pada awalnya, Ayca yang kerap membagikan konten daily life dan ulasan produk kecantikan tidak menyangka kebiasaannya tersebut bisa menjadi jalan masuk ke perguruan tinggi. Ia sempat merasa ragu untuk mendaftar karena konten yang dibuatnya di media sosial tidak murni bernuansa edukasi, namun pihak kampus ternyata memiliki pandangan komprehensif dalam menilai kemampuan komunikasi digital calon mahasiswa.

“Awalnya aku pesimis karena kontenku bukan konten edukasi. Tapi ternyata UMM tetap melihat potensi dari cara kita membangun audiens dan komunikasi di media sosial. Kampus juga melihat kemampuan kreator dalam membangun audiens dan komunikasi digital,” ungkapnya.

Berbekal lebih dari 100 ribu pengikut, jauh melampaui syarat minimal 10 ribu pengikut. Ayca berhasil diterima dan mendapatkan potongan Biaya sebesar 50 persen. Selama berkuliah, ia dituntut untuk mengembangkan manajemen waktu yang baik antara dunia akademik dan aktivitas digitalnya, di mana berbagai praktikum di Ilmu Komunikasi serta keterlibatannya di digital team UMM menjadi wadah utama untuk melatih kedisiplinan dan memahami strategi konten.

“Praktikum di komunikasi benar-benar ngelatih disiplin dan tanggung jawab. Itu yang paling kepakai sampai sekarang waktu kerja. Selain perkuliahan, keterlibatanku di digital team UMM menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan karier. Lingkungannya membuatku lebih memahami strategi konten, algoritma media sosial, hingga cara membangun audiens yang lebih luas,” jelas Ayca.

Berkat tempaan relasi, kedisiplinan, dan ekosistem kampus yang suportif, Ayca langsung direkrut sebagai content creator di sebuah klinik kecantikan hanya berselang satu minggu setelah kelulusannya. Kisah Ayca menjadi pesan penting bagi generasi muda bahwa media sosial, jika dikelola dengan konsisten dan bertanggung jawab, bukan hanya sekadar tempat berekspresi, melainkan jembatan menuju masa depan profesional yang menjanjikan. Perguruan tinggi kini tidak lagi sekadar menjejali mahasiswa dengan teori di dalam kelas, namun telah bertransformasi menjadi ruang inkubasi yang mematangkan bakat digital agar siap bersaing di industri kreatif yang serba cepat.(vin/faq)

 

 

Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman