June 3, 2026, oleh

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan dengan menjawab isu krusial nasional seperti tingginya angka stunting, kemiskinan ekstrem, hingga tantangan persaingan di era digital, Kampus Putih secara masif menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat lokal hingga kancah global.
Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. menyatakan bahwa seluruh riset dan inovasi kampus putih difokuskan secara tajam untuk menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat dan industri, bukan lagi sekadar mengisi kekosongan literatur akademis semata.
”Kita sekarang mengarahkan agar persoalan yang diangkat itu berangkat dari persoalan riil masyarakat atau industri, bukan sekadar gap dari literatur saja,” tegasnya 30 Mei lalu pada Humas UMM.
Dampak nyata dari arahan ini terwujud dalam berbagai kolaborasi strategis. Di tingkat nasional, UMM menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pengelolaan tambang berkelanjutan serta merumuskan standar bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas. Di kancah global, ekspansi UMM menembus Tiongkok melalui pendirian Halal Center di Fuzhou University, yang dirancang untuk membuka peluang bagi alumni UMM dalam memimpin ekosistem sertifikasi halal internasional.
Langkah solutif ini juga diimbangi dengan strategi pengabdian yang terukur. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., MPA., menjelaskan bahwa program pengabdian kampus selalu didahului dengan pemetaan kondisi krisis di lapangan agar intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran, seperti inisiatif penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT).
”Program pengabdian kepada masyarakat itu tidak berangkat dari ide universitas, tetapi berangkat dari permasalahan masyarakat. Karena itu, sebelumnya kami melakukan mapping problem sosial,” jelasnya.
Intervensi berkelanjutan UMM tidak berhenti di NTT. Kampus ini juga sukses menghidupkan perekonomian desa lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Sumber Maron, transformasi wisata Jodipan, hingga sistem green farming di lahan terasering Tabanan, Bali, yang berujung pada pengakuan resmi sebagai mitra UNESCO. Untuk memastikan keberlanjutan dampak ini, mahasiswa UMM diterjunkan langsung dan dibekali dengan penguasaan tiga bahasa utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa pemrograman (coding). (*faq)
Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman